Perppu Ormas, Antara Keamanan Nasional dan Kebebasan Sipil

PRO dan kontra masih mewarnai Perppu No. 2 Tahun 2017. Berbagai pendapat bergulir menanggapi keluarnya peraturan ini. Salah satunya dalam diskusi yang diadakan PMII Cabang Gowa.

Diskusi yang digelar pada Sabtu, (29/7) bertempat di Cafe D.O ini mengangkat tema “Perppu No. 2 Tahun 2017, Antara Keamanan Nasional dan Kebebasan Sipil”.

Romi Librayanto pakar hukum Universitas Hasanuddin juga menegaskan bahwa pemerintah memang harus mengambil sikap tegas terhadap ormas-ormas yang jelas melanggar Pancasila dan UUD 1945.

“Pancasila dan UUD 1945 adalah falsafah hidup bangsa Indonesia. Keduanya adalah landasan hidup dan bernegara yang harus dijaga. Sehingga jika ada yang melanggar keduanya, pemerintah memang harus bersikap dengan tegas.”, ungkap Romi.

Pendapat lain diutarakan oleh pengamat politik Firdaus Muhammad yang memandang bahwa ada konflik yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu. “Salah satu fenomena yang terjadi itu saling tuduh. Ormas-ormas tertentu akhirnya menuduh pemerintah anti Islam, pemerintah pun menilai ormas-ormas tersebut anti Pancasila.”, tutur beliau.

“Jangan dibahasakan pemerintah anti Islam. Pemerintah juga harus mampu menggunakan Perppu ini dengan sebaik-baiknya.”, tambahnya.

Peneliti Kemenag Makassar Syamsul Rijal Adhan turut memberikan pandangan dan sikapnya terkait Perppu ini, “Saya setuju organisasi anti Pancasila dibubarkan, tapi mekanismenya harus lewat hukum.”

“Perppu ini juga secara umum dapat menjadi benih ancaman berserikat bagi organisasi-organisasi lain. Perrpu ini bisa saja menjurus pada subversivitas. Itu yang perlu kita kaji dan kawal.”, lanjut beliau.

Akademisi Arief Wicaksono mengutarakan bahwa banyak diantara kita mulai mengarah pada abnormalitas, “Parahnya bahwa jika kita telah menganggap abnormalitas itu sebagai hal wajar. Kita mulai sembarang melaporkan orang, sembarang mencemooh orang, bahkan bullying di mana-mana.”, ungkapnya.

“Ada kedisiplinan yang menurun dari kita. Disiplin terhadap Pancasila, NKRI, dan nilai adi luhur bangsa. Kita mulai kehilangan tenggang rasa dan saling menghargai,” tambah Arief yang juga Dekan Fisipol Universitas Bosowa ini. (rls/pojoksulsel)



loading...

Feeds