IGI Sulsel Siap Kawal Guru Darmawati

Wakil Ketua IGI Sulsel yang mengkoordinir wilayah Ajattapareng Abdul Wahid Nara saat bertemu dengan guru Darmawati.

Wakil Ketua IGI Sulsel yang mengkoordinir wilayah Ajattapareng Abdul Wahid Nara saat bertemu dengan guru Darmawati.

IKATAN Guru Indonesia (IGI) Sulsel merasa kecolongan adanya guru agama Darmawati yang berjuang sendiri sehingga jatuh vonis 3 bulan dengan masa percobaan tujuh bulan, karena memukul bahu siswanya. Tindakan tegas itu dilakukan karena telah berulang kali menegur secara lisan siswa yang bernama Ayu Ashari tersebut di SMAN 3 Parepare.

Untuk itu IGI Sulsel siap mengawal kasus ini jika banding. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua IGI Sulsel yang mengkoordinir wilayah Ajattapareng Abdul Wahid Nara, S.Pd. M.Pd.

“Kami sangat menyayangkan rekan seprofesi kami berjuang sendiri dalam menghadapi kasus yang menimpa dirinya,” ungkap Wahid Nara.
“Gerakan untuk mengawal guru ini akan menggema se-Indonesia,” tambahnya.

Kami sayangkan karena Hakim memvonis bersalah padahal guru dilindungi oleh PP No 74 tahun 2008 dan Permendikbud No 10 Tahun 2017 tentang perlindungan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Unutk itu saatnya kita menunjukkan bahwa guru itu betul-betul mulia, mulai profesi, mulia pribadi, dan bahwa guru tidak sendirian.

Gerakan Kawal Guru Kita adalah gerakan spontanitas dan anti kekerasan Mari bersama kita lawan kriminalisasi guru. “Ini kami anggap sudah melakukan kriminalisasi terhadap guru, karena hanya ingin mendidik lalu dipidanakan, apalagi siswa tersebut tidak sampai luka ataupun ada bekasnya,” jelas mantan guru SMPN 9 Parepare ini.

Sementara itu, Darmawati, S.Ag. ketika menjelaskan persoalan tersebut ke Wakil Ketua IGI Sulsel Wahid Nara dihadapan beberapa wartawan di Warkop Birleng Pinrang (28/7/2017) menjelaskan secara detail kronologis mengapa dia sampai divonioleh hakim.

“Kami tidak pernah membayangkan jika hakim memvonis kami seperti ini” katanya. “Kami hanya ingin menjadikan siswa kami taat beragama dengan pembiasaan shalat berjamaah di masjid,” tambah Darma.

Apalagi dokter yang memeriksa anak tersebut sudah menjelaskan bahwa siswa kami itu tidak ada luka sama sekali, memang sempat bermalam di rumah sakit karena dokter mau menganalisa penyakitnya tapi tidak ada penyakit akibat dari pukulan.

Selain itu keganjilan lain dengan menunggu anak itu tamat dari sekolah baru dilimpahkan persidangannya. “Yang jelas niat kami hanya ingin mendidik anak tersebut karena sering menemukan tidak shalat berjaah dengan temannya, sama sekali tidak ada niat untuk menyakit,” jelas Darma.

Citizen Reporter:

IGI Sulsel



loading...

Feeds