ANALISIS: Duet Bugis di Puncak Beringin

Nurdin Halid saat menggelar press conference

Nurdin Halid saat menggelar press conference

PASCA penetapan Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto (Setnov) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP oleh KPK, DPP Partai Golkar langsung menggelar rapat mendadak. Salah satu poin yang diputuskan dalam rapat itu, yakni Setnov menunjuk Nurdin Halid dan Idrus Marham untuk mengendalikan partai berlambang pohon beringin ini.

Tentu, tidak ada hal luar biasa dari penunjukan kedua orang ini. Sebab secara organisasi, keduanya memiliki posisi strategis. Nurdin Halid sebagai Ketua Harian, dan Idrus Marham Sekretari Jenderal. Sejatinya, jika ketua umum berhalangan, kedua tokoh inilah yang memang mengendalikan partai.

Yang menarik dari dua tokoh Golkar ini, karena keduanya adalah orang Bugis. Nurdin Halid lahir di Kabupaten Bone, dan Idrus Marham di Kabupaten Pinrang. Keduanya juga memiliki latar belakang keluarga yang hampir sama.

Baik Nurdin maupun Idrus, bukanlah terlahir dari keluarga yang memiliki pengaruh besar di Sulsel. Nurdin dibesarkan dari keluarga guru. Bahkan, untuk melanjutkan profesi ayahnya, Nurdin memilih kuliah di IKIP Makassar, perguruan tinggi yang mencetak para guru.

Jika melihat prestasi yang diraih Nurdin hingga mencapai posisi puncak di Partai Golkar, hal itu diraih dengan penuh kerja keras. Meski awalnya Nurdin lebih dikenal sebagai pengusaha yang gila bola.

Sosoknya yang kontroversial dan menjadi buah bibir masyarakat dari semua lapisan. Di tangan dialah, PSM Makassar mencapai puncak prestasi dengan meraih juara Liga. Saat itu, Nurdin sebagai manajer PSM.

Setelah sukses mengantarkan PSM sebagai juara, Nurdin lantas membidik DPR RI. Ia akhirnya terpilih sebagai anggota DPR-RI dari Partai Golkar pada tahun 1999—2004. Karena kegilaannya terhadap sepakbola, Nurdin akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PSSI.

Tak hanya itu saja, popularitas Nurdin Halid bahkan sampai ke kancah dunia. Mengutip Merdeka.com, Harian terkenal Inggris, Guardian, memberikan award ‘2010’s best FA official’ kepada Nurdin Halid. Guardian menyandingkan Nurdin bersama Vlatko Markovic. Sebelumnya pada tahun 2007, Nurdin juga pernah mendapatkan award ‘Best official’ dari Guardian.

Bagaimana dengan Idrus Marham? Sosok ini lebih dikenal sebagai organisatoris. Idrus muda banyak aktif dan terlibat pada organisasi kepemudaan dan keagamaan seperti Karang Taruna dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), hingga Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI). Ia bahkan pernah menjadi Ketua Umum BKPRMI.

Sebelum hijrah ke Jakarta, Idrus awalnya lebih banyak di Surabaya. Ia dikenal sangat dekat dengan Gubernur Jawa Timur saat itu, Basofi Sudirman. Dari sinilah, Idrus mengawali karir politiknya.

Ia masuk dalam dunia politik  ketika terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat pada pemilu 1997. Setelah itu, melalui partai Golkar ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk tiga periode berturut-turut yaitu 1999-2004, 2004-2009, dan 2009-2004 untuk daerah pemilihan III Sulawesi Selatan.

Hingga akhirnya, Idrus dipercaya menjadi Sekjen DPP Partai Golkar di era Aburizal Bakrie. Tidak hanya itu, pasca Munas Bali, kepemimpinan Golkar beralih ke Setya Novanto, namun Sekjen DPP Golkar tetap di tangan Idrus.

Kemarin, dalam rapat pleno Golkar, bersama Nurdin Halid, Idrus diamanahkan untuk mengendalikan Partai Golkar. Duet Bugis ini, dinilai sebagai sosok yang tepat mengamankan partai disaat ketua umumnya terseret kasus dugaan korupsi.

(mukhramal azis/pojoksulsel)



loading...

Feeds

politik sulsel, pemilu 2019, kpu maros, ppk maros, tes ppk maros

114 Calon PPK Maros Ikut Ujian Tulis

POJOKSULSEL.com MAROS – Sebanyak 144 calon Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se Kabupaten Maros mengikuti tes tertulis di Gedung Serbaguna …