Segarnya Membuka Pagi di Bukit Samata Gowa

MENYAKSIKAN matahari terbit atau “sunrise” telah menjadi hoby sebahagian orang di beberapa belahan dunia, termasuk di Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Setiap harinya beberapa warga sering mengunjungi salah satu Bukit yang terletak tepat di depan Kampus II Uin Alauddin Samata yang berlokasi di Jln. Syahrul Yasin Limpo terutama seusai melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid yang berada tak jauh dari bukit tersebut.

Tujuannya tak lain untuk menyaksikan terbitnya matahari di arah timur yang begitu mempesona dengah khas warna jingga yang sedikit memerah.

Wahyudi Anwar misalnya salah seorang warga Kelurahan Samata membeberkan bahwa hampir setiap harinya ia mengunjugi tempat yang di kenal dengan istilah Bukit Samata itu untuk memanjakan matanya dengan pemandangan matahari terbit dari sela-sela punggungan gunung.

“Saya sangat sering ke sini, untuk menyaksikan matahari terbit bahkan beberapa kali mengajak anak juga,” katanya saat ditemui di lokasi tersebut (15/07/2017).

Meski tak tinggal lama ditempat itu, ia merasa selalu terpanggil menaiki bukit tersebut dengan alasan yang sama setiap harinya.

“Palingan 20-30 menit di sini setelah itu saya pulang ke rumah untuk mandi lalu bersiap berangkat kerja,” lanjutnya

Selain Wahyudi Anwar, juga ada Andi Riswangga Ashari, salah seorang mahasiswa di UIN Alauddin Makassar, yang mengakui kerap berkunjung ke tempat tersebut untuk melihat matahari menyapa warga Samata dengan cahayanya yang khas.

“Sebelum ke kampus saya selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan sunrise tersebut bersama teman-teman se kost,”

Tak hanya sekedar memandang orangenya, wangga sapaan akrabnya juga membeberkan kadang menikmati peristiwa alami itu   dengan menyeruput kopi untuk menambah semangatnya di pagi hari sebelum melakukan aktivitas apapun.

Selain itu alasannya melakukan hal itu berulang-ulang karena ia percaya bahwa dengan menyaksikan matahari terbit bisa menyegarkan mata dab menjauhka  penyakit rabun dini karena sering bertatapan dengan layar komputer saat mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.

” Terapi mata sekalian, agar mata tidak cepat rabun, apalagi jika mahasiswa seperti saya sering menatap lama layar komputer jika tidak dilakukan pencegahan pasti cepat terkena penyakit tersebut,” tutupnya.

Selain suguhan matahari terbit, Bukit samata juga dilengkapi dengan kedai kopi milik salah seorang warga setempat yang terbuka selama 24 jam untuk menjajakan beberapa menu minuman panas seperti Teh, Susu dan Kopi kepada pengunjung yang datang.

CITIZEN REPORT:
Nurul Fadhilah Syahid
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin
Makassar



loading...

Feeds