Tak Puas Pembangunan Sulsel, Alasan NH Maju di Pilgub Sulsel 2018

Pengurus PPP Sulsel saat bersilaturrahmi dengan Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Sabtu (15/7/2017). | POJOKSULSEL - GUNAWAN SONGKI

Pengurus PPP Sulsel saat bersilaturrahmi dengan Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Sabtu (15/7/2017). | POJOKSULSEL - GUNAWAN SONGKI

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Tidak puas dengan pembangunan di Sulawesi Selatan (Sulsel) saat ini menjadi alasan utama Nurdin Halid (NH) maju mencalonkan diri sebagai gubernur di Pilgub Sulsel 2018.

NH menyampaikan hal tesebut saat menyampaikan penggalan singkat visi-misinya di depan elite pengurus DPW PPP Sulsel yang datang berkunjung ke rumah pribadi Nurdin Halid di Jalan Mappala, Makassar, Sabtu (15/7/2017).

Elite Partai PPP yang bersilaturrahmi ke kediaman NH, antara lain Ketua PPP Sulsel Muhammad Aras dan Ketua Bappilu Rizal Syarifuddin.

“Memang, pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai di atas pertumbuhan rata-rata nasional, yakni 7,5 persen. Itu bagus. Tapi, pertumbuhannya hanya di kota. Tetapi di pelosok, di desa-desa, pertumbuhan itu tidak ada. Coba tanya orang-orang di kampung, seberapa banyak mereka punya kemampuan,” beber mantan Dirut PUSKUD Hasanuddin Sulsel ini.

“Di kampung, di pelosok bagaimana. Coba kita tanya, berapa kali mereka makan daging. Hanya menjelang lebaran. Tapi di kota, kapan saja kita makan coto, pallu basa dan sebagainya,” ujar Nurdin Halid yang saat ini menjabat sebagai plt ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.

Menurut NH, Indonesia saat ini memiliki 157 desa yang sangat tertinggal. Sebagian yang tertinggal itu berada di Sulsel.

“Fakta yang ada, meski ekonomi Sulsel tumbuh 7 persen di atas rata-rata nasional, tapi Gini-Rationya memcapai 0,41 %, zona merah. Karena itulah juga sehingga saya maju di Pilgub Sulsel 2018. Jadi sekali lagi bukan untuk berkuasa, tetapi karena tidak puas dengan pembangunan Sulsel saat ini,” tegas Nurdin Halid, yang juga menjabat ketua harisn DPP Golkar.

Menurut Ketua Umum Dekopin ini, salah satu penyebab Sulsel masih ketinggalan, antara lain karena konsep ekonomi yang berkembang tidak sesuai konstitusi Indonesia

Sementara itu, kata Nurdin Halid, kondisi ekonomi Sulsel dengan gini ratio yang mencapai 0,41%, dengan sendirinya mengakibatkan kesenjangan di masyarakat. Kesenjangan inilah, katanya, yang wajib bagi orang Sulsel untuk memperbarui cara pikirnya dalam membangun daerah ini.

Tentang karirnya, Nurdin Halid menganggap sudah cukup dengan karir nasionalnya saat ini, baik di bidang politik maupun dalam bisnis. Tapi, katanya, itu tidak ada artinya kalau dirinya tidak mampu memperbaiki kampungnya.

“Kalau mau berkuasa, di Jakarta, di pusat. Kalau membangun, tentu di daerah. Jadi kalau ke daerah, sudah pasti bukan untuk berkuasa,” ujar Nurdin Halid.



loading...

Feeds