Digerebek, Pasangan Nikah Siri Dipaksa Perbaiki Jalan Kuburan

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com – NN, 29, wanita asal Desa Tegalrejo dan IN, 28, pria asal Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, Jatim, merupakan pasangan pernikahan siri.

Keduanya tidak menyangka rumahnya digerebek oleh warga sekitar. Warga memaksa hubungan pernikahan pasangan ini segera meresmikan hubungannya secara hukum negara lewat Kantor Urusan Agama (KUA).

NN sendiri sudah tinggal serumah hampir satu tahun dengan IN.

“Saat digerebek keduanya sedang berada di ruang tamu, kemudian langsung dibawa ke balai desa untuk dimediasi,” terang Kepala Dusun Krajan, Desa Sumberagung, Supriyo kemarin (10/7).

Dia mengaku, sebelum penggerebekan, warga sekitar dan perangkat desa sering mengingatkan kepada pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Ternyata mereka tidak lantas segera meresmikan hubungan yang sudah terjalin lama.

Termasuk keluhan sering dilontarkan orang tua IN terkait hubungan putrinya yang diketahui menikah siri. J

Justru warga meminta syarat, untuk segera menikah secara resmi di KAU dengan rentang waktu tiga bulan setelah nikah siri.

“Tetapi setelah hampir tujuh bulan berlalu janji tersebut belum juga terwujud. Makanya warga menggerebek karena geram risih merasa terganggu,” jelasnya.

Usai digerebek, lanjut dia, pasangan tersebut saat dibawa ke balai desa untuk dimediasi. Warga menuntut sebelum ada ikatan yang sah, NN tersebut tidak boleh berkunjung ke rumah IN.

Dan sesuai hukum adat desa, NN yang mengaku sudah mendapatkan izin berpoligami dari istri sahnya, tetap dikenakan sanksi harus memperbaiki akses jalan ke tempat pemakaman umum (TPU) dengan cara menyumbang dua rit pasir dan satu rit batu atau koral

“Syarat pertama NN menyanggupi, tapi karena faktor ekonomi awalnya dia menolak . Tetapi setelah istri sahnya dihadirkan dan dimediasi polsek juga, akhirnya NN menyanggupi,” jelasnya.

Dia menambahkan, pemberian sanksi tidak diatur dalam peraturan desa (perdes), namun sanksi murni permintaan dari warga sekitar berdasarkan hukum adat.

“Yang penting masalah sudah selesai, dan bersyukur kejadian kemarin warga tetap bisa tertib dan sopan,” katanya.

(JPNN)



loading...

Feeds