Gemar Kopi, Pria Ini Telah Jelajahi 45 Negara

DALAM tiga tahun terakhir, Hendrick Hartono sudah menjelajahi 45 negara. Demi kegemaran pada kopi. Dia pun sudah mendapatkan predikat Q Arabica Grader dari Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI).

BRIANIKA IRAWATI, Surabaya

DUA tangan Hendrick Hartono tampak begitu cekatan. Siang itu (23/6), dia sedang unjuk aksi membuat secangkir latte art di Caturra Espresso.

Di samping mesin kopi, bertengger berbagai macam jenis biji kopi nusantara. Itu semua sebagian koleksi biji kopi milik Hendrick. Ada biji kopi dari Aceh. Ada pula yang berasal dari Kintamani, Bali. Biji kopi asal Flores dan Sumatera juga ada.

’’Saya suka sekali dengan kopi Indonesia. Terutama kopi Gayo dari Aceh. Kopi favorit saya,’’ ungkapnya sambil terus meracik kopi.

Menurut Hendrick, tiap-tiap daerah di Indonesia punya cita rasa kopi yang berlainan. ’’Bersyukur kita tinggal di Indonesia yang kaya tanaman kopi,’’ kata pria 26 tahun tersebut. Cita rasa kopi berlainan lantaran lokasi dan kondisi tanah tempat biji kopi tumbuh berbeda. Tanaman di sekitar perkebunan kopi juga memberi pengaruh.

Kopi yang ditanam berdekatan dengan pohon jeruk bisa punya aroma dan rasa jeruk. Tentu, kopi di dekat peternakan sapi tidak lantas bercita rasa kopi susu. Enggak seperti itu…

Hendrick memang bersahabat dengan kopi. Dia adalah pemegang lisensi Q Arabica Grader dari Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI). Tidak semua orang bisa mengikuti ujian itu. Keinginan kuat harus didukung dengan kemampuan yang mumpuni. Tidak cukup berbekal hobi mencicipi kopi. Biaya ujian lisensi itu pun cukup mahal. Puluhan juta.

Sebagai Q Grader, Hendrick berhak menilai cita rasa kopi dari daerah mana pun. Khususnya kopi arabika. ’’Kopi ini nilainya berapa, itu dinilai oleh Q Arabica Grader, lantas diresmikan oleh SCAI. Biasanya untuk quality control produksi kopi,’’ paparnya.

Tentunya, tak mudah mendapatkan posisi itu. Hanya segelintir orang yang mampu melewati tahap demi tahap untuk mendapatkan predikat Q Arabica Grader. Hendrick punya pengalaman berkesan soal itu. ’’Saya masih ingat banget,’’ ujar pria asli Surabaya tersebut.

Dia harus mengikuti kelas Q Arabica Grader selama enam hari. Tiga hari latihan, tiga hari ujian. Setiap hari, Hendrick harus mencicipi 80 jenis kopi arabika dari berbagai negara. Hendrick sempat grogi. Minum 10 gelas kopi saja sudah gimana, gitu… Apalagi harus 80 cup.

Tapi, tes itu harus dilewati Hendrick untuk menjadi seorang Q Arabica Grader. Terpaan kopi tersebut bisa melatih kepekaan lidah seorang grader alias pencicip. ’’Hari kelima, saya sampai muntah- muntah saking banyaknya minum kopi,’’ kata pria kelahiran 24 September 1990 itu.

Sembari berbincang dengan Jawa Pos, Hendrick menuntaskan secangkir latte art berbentuk waru. Tak sampai satu menit sudah jadi. Rutinitas tersebut sudah menjadi makanan keseharian Hendrick tatkala bersantai.

’’Kopi itu seperti seni. Unik dan menarik untuk terus dipelajari,’’ ujar Hendrick. Karena itu, perjuangannya berbuah manis. Lidah Hendrick seakan sudah punya setelan untuk menilai kopi. Rasanya. Karakternya. Keasamaannya. Rasa fruity-nya. Ketebalannya. Hingga, kecacatan kopi. ’’Dan, masih banyak lainnya. Kami harus mencicipi dengan baik sebelum memberikan nilai,’’ terangnya.

Tetapi, predikat itu harus terus diperbarui. Hendrick harus mengikuti uji coba lagi sebagai Q Grader. Dua tahun sekali, seorang Q Grader harus mengikuti ujian lagi demi memperbarui kapasitasnya.

Selama menunggu ujian, Hendrick menuntaskan rasa keingintahuannya tentang kopi. Dia pun berkeliling ke 45 negara demi kopi. Di masing-masing negara, dia tak alpa menyeruput kopi tradisional. Itu ritual wajibnya.

Sebelum traveling, Hendrick selalu melakukan riset tentang kopi di daerah yang akan dikunjungi. Seperti apa cara penyajiannya sesuai tradisi masyarakat lokal. Riset juga mencakup tempat kopi mana yang paling terkenal dan dicari oleh pencinta kopi. Serta, kehidupan petani kopi di daerah tersebut. ’’Saya selalu hunting dulu informasi- informasi itu. Jadi, waktu ke sana, saya bisa lebih enak mencarinya,’’ jelas Hendrick.

Namun, terkadang pula, kenyataan tidak seperti bayangan Hendrick. Malah, Hendrick sering menemukan kopi lebih enak secara on the spot saat di sana. Rasa enak itu bukan hanya dari rasa kopi. Tapi, menurut Hendrick, bagaimana cerita perjuangan untuk mendapatkan kopi tersebut. Perjalanan yang harus dilewatinya demi mencapai tempat kopi. Itulah sensasi yang dicari Hendrick selama traveling.

Salah satunya, cerita Hendrick, terjadi di Nepal. Hendrick merasa senang bisa minum kopi di Australian Base Camp, trek di kawasan Pegunungan Himalaya. Selagi menyeruput kopi, dia bisa menikmati keindahan Pegunungan Himalaya. ’’Hmmm beda saja kalau langsung minum di sana. Tapi, saya juga beli beberapa kopi di sana untuk dibawa pulang ke Indonesia,’’ kata alumnus Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Australia, tersebut.

Beda tempat, beda pula cara minum kopinya. Di Turki, misalnya. Hendrick mengaku suka dengan cara penyajian kopi di sana. Bubuk kopi diseduh langsung di atas bara api kompor. Kopi diaduk, lantas disajikan selagi panas. Kalau di Vietnam, lain lagi. Kopi Vietnam harus disajikan dengan susu kental manis. ’’Cara-caranya beragam. Saya suka masing-masing. Unik menurut saya. Tapi, kopi Indonesia tetap jadi favorit saya,’’ jelas Hendrick.

Tahun ini Hendrick memiliki target menambah lima negara lagi sebagai destinasinya. Kalau berhasil, total ada 50 negara. Dia selalu mencatat karakter kopi yang sudah dicicipi selama ini. Rencananya, catatan kecil itu dikumpulkan menjadi sebuah buku. ’’Doakan saja ya bisa terbit tahun depan,’’ katanya. Buku tentang perjalanan dan kopi. 

(*/c7/dos/pojoksulsel)



loading...

Feeds

nasional, berita terkini nasional, harga rokok naik, rokok naik bulan depan, rokok naik 50 ribu, bulan depan harga rokok naik, harga rokok, rokok naik, rokok 50 ribu per bungkus

Harga Rokok Murah, DPR Bilang Begini

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Masih terlalu murahnya harga rokok, menyebabkan perokok pemula di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia terus meningkat. Organisasi …