TERNYATA! Ini Penyebab 7-Eleven Tutup

Ilustrasi 7-Eleven. Foto: Jawapos.com

Ilustrasi 7-Eleven. Foto: Jawapos.com

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Jumat (30/6/2017) hari ini, gerai ritel modern 7-Eleven memutuskan tutup massal.

Sebelumnya, 7-Eleven sudah mengajukan surat laporan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditandatangani pimpinan perusahaan yang menaungi Sevel, yakni Direktur PT Modern Internasional, Chandra Wijaya. Surat itu ditujukan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perihal keputusan penutupan gerai-gerai Sevel.

Senior Analyst Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada menilai, jika melihat dari surat laporan Sevel kepada BEI perihal keterbukaan informasi, secara implisit Sevel memang tengah kesulitan keuangan dan membutuhkan dana segar.

Namun harapan itu tak terwujud seiring pembatalan kesepakatan akuisisi Sevel dengan perusahaan bisnis besar asal Thailand PT Charoen Pokphand Restu Indonesia.

“Dari surat itu, secara implisit Sevel butuh tambahan dana segar untuk menunjang operasionalnya. Dengan kemampuan yang mereka miliki saat ini, tak mencukupi. Sehingga butuhkan tambahan investor untuk pendanaan,” tegas Reza kepada JawaPos.com, Jumat (30/6/2017).

Terkait dengan hal-hal lainnya yang menyangkut karyawan, kata Reza, dalam surat tersebut disebutkan, bahwa pihak Sevel akan menyelesaikan secara internal. Reza menjelaskan Sevel merupakan bagian dari emiten perusahaan Tbk, sehingga apa yang terjadi di internal perusahaan harus disampaikan kepada BEI.

“Jadi tak terbatas pada korporasi, apakah mau terbitkan surat utang, akuisisi, obligasi. Setiap kejadian material dan non material harus disampaikan ke BEI. Misalnya mengadakan RUPS, ganti direksi, harus lapor,” tegasnya.

Reza menjelaskan, setelah perusahaan atau pihak Sevel melalukan aksi korporasi dan memutuskan untuk menutup gerai-gerainya, maka maksimal H+2 atau selambat-lambatnya H+3 dari keputusan itu pihak manajemen Sevel wajib lapor atau memberitahukan kepada BEI.

“Setelah itu, BEI hanya laporkan kondisi mereka (Sevel) saja. Untuk selanjutnya, menjadi urusan internal mereka. Misalnya Bagaimana kewajiban Sevel ke gerai-gerai yang ada. Apakah gerai-gerai itu sewa atau memang milik Sevel. Katakanlah sewa, mungkin berapa lagi kewajiban yang harus dibayarkan, itu semua jadi urusan internal Sevel,” tegas Reza.

Dalam surat Sevel kepada BEI, Direktur PT Modern Internasional Chandra Wijaya menuliskan adanya keterbatasan sumber daya. Selain itu, disebutkan pula di dalam surat tersebut terjadinya pembatalan kesepakatan dengan PT Charoen Pokphand Restu Indonesia. Isinya sebagai berikut:

Bersama dengan surat ini, kami bermaksud untuk menginformasikan bahwa per tanggal 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di bawah manajemen PT Modern Sevel Indonesia yang merupakan salah satu entitas anak Perseroan akan menghentikan kegiatan operasionalnya.

Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai 7-Eleven, setelah Rencana Transaksi Material Perseroan (RMP) atas penjualan dan transfer segmen bisnis restoran dan convenience store di Indonesia dengan merk waralaba 7-Eleven beserta aset-aset yang menyertainya oleh PT Modern Sevel Indonesia, sebagai salah satu entitas anak dari Perseroan kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia, mengalami pembatalan karena tidak tercapainya kesepakatan atas pihak-pihak berkepentingan.

Hal-hal material yang berkaitan dan yang timbul sebagai akibat dari pemberhentian operasional gerai 7-Eleven ini, akan ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku dan akan diselesaikan secepatnya.

Namun hingga pagi tadi pukul 10.00 WIB, JawaPos.com berusaha menghubungi pihak Sevel termasuk Chandra Wijaya, tak mendapat tanggapan. Begitu pula untuk seluruh jajaran Direksi Sevel.

(cr1/JPG)



loading...

Feeds