Pak JK Titip Pesan kepada Nurdin Halid

Wapres Jusuf Kalla (JK)

Wapres Jusuf Kalla (JK)

PENGABDIANNYA kepada bangsa dan negara ini, tidak disangsikan lagi. Kalau Allah memberikannya umur panjang, maka total 20 tahun hidupnya, telah ia abdikan untuk Indonesia. Sebelumnya, praktis seluruh hidupnya, ia habiskan untuk bisnis keluarganya yang ia warisi dari ayahnya.

Di puncak kematangan usianya, dunia bisnis ia tinggalkan sepenuhnya, ketika ia memutuskan menerima tawaran Gus Dur untuk masuk di kabinet. Padahal, sebagai pebisnis, saat itu, ia  sedang berada di puncak kejayaannya. Bahkan, namanya sempat masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia di antara dominasi non-pribumi.

Sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian (Menperindag) pada Pemerintahan Gus Dur, mau tak mau, Pak JK harus meninggalkan Sulsel dan menetap di Jakarta pada tahun 1999. Sejak itu, perjalanan hidup Pak JK selanjutnya mengantarkannya menjadi tokoh nasional. Bahkan, sampai dua kali menjadi orang nomor dua di Republik ini. Hal ini membuat Pak JK, bukan hanya milik Sulsel. Tapi sudah menjadi milik Indonesia. Dalam kondisi seperti itu,  Pak JK menyadari bahwa waktu dan pikirannya, tidak mungkin ia bisa konstribusikan secara langsung untuk pembangunan Sulsel.

Tetapi saat ini, kesadaran Pak JK seperti terusik oleh kondisi Sulawesi Selatan. Yaitu, kesadaran pada tanah yang melahirkan dan membesarkannya. Mungkin saja,  Pak JK tiba-tiba dihinggapi rasa “bersalah” melihat Sulsel yang tak maju-maju.

Tidak ada kemajuan yang signifikan sejak Prof. A.  Amiruddin mencanangkan Sulsel sebagai pusat pertumbuhan di kawasan Timur Indonesia.  Faktanya, hingga saat ini, pusat pertumbuhan itu masih tetap berada di Surabaya, Jawa Timur. Bahkan, kini, Manado muncul di utara sebagai pusat pertumbuhan baru.

Gagasan Pak JK mengenai percepatan transformasi ekonomi berbasis pertanian (agro-ekonomi) menuju ekonomi berbasis industri pertanian (agroindustri-ekonomi), menunjukkan bahwa dalam konteks strategi membangun Sulawesi Selatan, Pak JK dipengaruhi oleh Prof. A. Amiruddin. Setidaknya pada konsep petik olah jual.  Hal ini dapat dipahami, karena Pak JK memang mengalami hidup berinteraksi secara intens dengan Prof. A. Amiruddin selama menjadi Gubernur Sulsel pada periode 1983 – 1993.

Interaksinya dengan Prof. A. Amiruddin,  menjadikan Pak  JK salah seorang di antara sedikit tokoh Sulsel yang  masih hidup yang memahami secara utuh konsep pembangunan ekonomi Sulsel yang diletakkan Prof. A. Amiruddin.  Yaitu, perubahan pola pikir, pewilayahan komoditas, dan petik olah jual, yang dikenal sebagai trikonsep pembangunan Sulawesi Selatan.  Sayangnya, konsep itu tak diadopsi sepenuhnya oleh tiga Gubernur setelahnya. Celakanya, padahal, mereka juga tak memiliki konsep pembangunan yang lebih mumpuni.

Ketakberlanjutan konsep itu,  tampaknya juga sangat disesali oleh Pak JK. Sebab, masalahnya, Sulsel tidak memiliki komoditas potensil dan masif yang memiliki daya saing, selain komoditas pertanian-perikanan. Seharusnya Pemerintah Sulsel lebih konsen, meminjam istilah Taslim Arifin, “memacu daya saing” komoditas tersebut melalui proses industrialisasi, demi yang disebut nilai tambah dan daya saing. Tetapai, apa yang tampak di lapangan, selama lebih dari dua dekade, Sulsel, seperti tidak memiliki visi dan arah pembangunan.

Inilah yang mengusik kesadaran Pak JK di usianya yang sudah memasuki senja. Karena sadar bahwa  Pak JK tidak mungkin bisa berbuat lebih untuk Sulsel, seperti layaknya seorang Gubernur, maka gagasannya untuk mempercepat transformasi menuju industrialisasi pertanian, ia jadikan sebagai pesan pembangunan untuk dititipkan kepada Gubernur Sulsel yang akan datang.

Nurdin Halid, sebagai Calon Gubernur Sulsel, mendapatkan kehormatan dititipi pesan itu. Termasuk pesan untuk  membagun pariwisata Sulsel, seperti, Tana Toraja, Tanjung Bira, Bantimurung, Lelang Leang, dan lainnya. Juga menjadikan Malino sebagai kota bunga dengan membangun kebun raya. Pesan-pesan Pak JK itu, oleh Nurdin Halid kemudian dituangkan dalam “Gerakan Membangun Kampung”. Nurdin Halid pun berkomitmen melaksanakan pesan-pesan Pak  JK itu, sekiranya rakyat Sulsel memberikan kepercayaan kepadanya  sebagai Gubernur Sulsel selanjutnya.

Rupanya, sama seperti Pak JK, Nurdin Halid pun sangat kuat diinpirasi oleh Almarhum Prof. A. Amiruddin. Terbukti konsepsinya  dalam “Gerakan Membangun Kampung”, sangat kental dengan pemikiran Prof. A. Amiruddin. Menurut Nurdin Halid, “gagasan pembangunan Prof. A. Amiruddin, masih sangat relevan dengan kondisi Sulsel saat ini. Semoga beliau mendapatkan kemuliaan di sisiNya”. Lagi pula, “pemimpin yang baik adalah yang mau  berendah hati mengambil yang baik dari para pendahulunya”. Pungkasnya.

Makassar, 28/06/2017
Oleh: YARIFAI MAPPEATY



loading...

Feeds