Salah Besar THR Dipakai Biaya Sekolah!

Ilustrasi-THR

Ilustrasi-THR

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Pakar Perencana Keuangan Universitas Indonesia (UI) Zaafri Husodo menyebutkan, lebaran tahun ini terasa sulit bagi para orang tua yang memiliki kewajiban membayar sekolah anak di tahun ajaran baru.

Cermat dalam menggunakan uang dan menyisihkan setiap pemasukan tentu tidak mudah.

Di satu sisi, banyak keperluan Lebaran yang harus dibayar dari mulai berbelanja, mudik, hingga Tunjangan Hari Raya (THR) anak buah atau saudara. Banyak orang tua yang menerima THR justru menggunakannya sebagai uang sekolah di tahun ajaran baru.

Zaafri Husodo menyesalkan jika hal itu betul terjadi. Dia menilai jika THR digunakan untuk biaya sekolah adalah sebuah kesalahan besar.

“Kalau mendapat THR lebaran jangan sampai dipakai buat sekolah. Salah besar jika THR dipakai untuk keperluan biaya sekolah,” tegasnya kepada JawaPos.com, Selasa malam (27/6).

Menurut Zaafri, THR adalah bonus tahunan untuk berlebaran. Tentu seharusnya digunakan untuk keperluan hari raya Idul Fitri. “Misalnya sebagian besar dari masyarakat kan punya staf rumah tangga ya. THR dari tempat bekerja atau ada tambahan ekstra dari bisnis alokasikan untuk staf yang setia membantu selama ini. Lalu Lebaran itu kan event keluarga ya. Lebaran berkumpul bersama keluarga tak bisa dipungkiri. Maka pengeluaran sebaiknya untuk hal-hal seperti itu,” tegasnya.

Zaafri memahami membayar uang sekolah saat tahun ajaran baru yang bertepatan dengan Lebaran tahun ini pasti sulit. Namun sebetulnya, dalam perhitungan perencanaan keuangan yang baik, uang sekolah seharusnya sudah dipersiapkan minimal 1 tahun sebelumnya.

Khususnya bagi mereka yang memiliki anak akan masuk ke jenjang sekolah yang baru masuk SD, SMP, dan SMA. “Secara ideal itu untuk uang sekolah harus persiapkan 1 tahun sebelumnya. Sekarang anak misalnya masuk SD SMP SMA yang paling repot adalah yang masuk swasta. Persiapkan uang pangkal swasta jika disesuaikan dengan penghasilan rata-rata orang Indonesia, butuh waktu 1,5 tahun persiapkan biaya sekolah,” katanya.

Zaafri juga menyarankan agar para orang tua tidak memaksakan diri untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta terbaik dengan biaya mahal tanpa menyesuaikan dengan kemampuan keuangan. Hal itu dapat membebani keluarga.

“Sekarang kalau memang masuk sekolah swasta, pasti orang tua akan terkena dampak besar. Standarnya itu, biaya sekolah swasta tak boleh lebih dari 60 persen penghasilan setahun. Namun sayangnya seringkali orang tua memilih sekolah terbaik di mana pun pada akhirnya bebani kemampuan secara jangka panjang,” tandasnya.

(cr1/JPG)



loading...

Feeds