ANALISIS: Open House JK dan Kontestasi Politik Sulsel

Wapres Jusuf Kalla bersama Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah

Wapres Jusuf Kalla bersama Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah

OPEN house yang digelar Wakil Presiden HM Jusuf Kalla di kediamannya di Makassar, mengubah konstalasi politik di Sulsel. Tidak hanya itu, juga memunculkan tafsiran-tafsiran baru terkait konstestasi lima tahunan itu.

Apalagi secara bergantian, JK menerima setidaknya empat bakal calon gubernur. Mereka adalah Nurdin Halid, Nurdin Abdullah, Agus Arifin Nu’mang dan Ichsan Yasin Limpo. Usai mereka diterima, muncullah berbagai macam spekulasi.

Spekulasi itu kian massif dan menjadi viral di media sosial. Ada yang menyebut Nurdin Halid bakal dijodohkan dengan Nurdin Abdullah. Analisis ini muncul karena duo Nurdin ini dianggap sebagai sosok yang paling ideal memimpin Sulsel.

Nurdin Halid memiliki dukungan partai politik yang memenuhi persyaratan untuk maju sebagai cagub. Meskipun dalam berbagai survei, Nurdin Halid masih kalah elektabilitas dari Nurdin Abdullah.

Nurdin Abdullah paling menonjol di berbagai survei. Ia merajai berbagai lembaga survei, hanya saja tidak (belum) memiliki dukungan partai politik. Inilah yang mendasari konsep perjodohan Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah.

Apalagi keduanya dipertemukan oleh JK. Meski tidak ada yang tahu (kecuali JK, NH, NA dan Aksa Mahmud) isi pertemuan itu. Semuanya berkembang sesuai persepsi dan kepentingan masing-masing kandidat.

Analisis lain menyebutkan, Nurdin Halid diminta JK untuk mundur dari pencalonan dan konsen untuk mengurus Partai Golkar menyusul Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto menjadi “pasien” KPK.

Dari open house JK ini juga muncul isu reshuffle kabinet. Aplagi, JK mendatangi khusus rumah jabatan Gubernur Sulsel dan menemui Syahrul Yasin Limpo. Tidak diketahui apa isi pertemuan kedua tokoh ini.

Yang pasti, pascapertemuan, beredar isu reshuffle. Kabarnya, SYL digadang-gadang menjadi menteri desa. Pengumumannnya dikabarkan akan digelar dalam pekan ini.

Setelah SYL jadi menteri, maka Agus Arifin Nu’mang diangkat menjadi gubernur. Tentang hal ini, kabarnya juga tidak lepas dari skenario Istana dan JK.

Ada keinginan istana dan JK, Pilgub Sulsel hanya head to head antara Nurdin Abdullah dan Ichsan Yasin Limpo. Artinya, Agus juga mundur dari pencalonan.

Sulit mengkonfirmasi asumsi-asumsi di atas. Yang pasti, kediaman JK di Makassar tentu menjadi saksi bisu dari segala trik untuk Pilgub Sulsel.

Anasir-anasir itu tentu tidak salah. Semua berkembang sesuai kepentingan para kandidat. Apalagi, yang mengetahui isi pembicaran JK dengan para bakal calon itu, yakni mereka dan Tuhan. Dan tidak ada konferensi pers khusus usai pertemuan dengan JK.

(mal/pojoksulsel)



loading...

Feeds