Begini Modus Penyerangan Polda Sumut

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com – Aparat kepolisian hingga kini masih menyelidiki kasus penyerangan Markas Polda Sumatra  Utara (Sumut) yang menewaskan salah satu anggota Polri.

Model penyerangan pelaku teror terhadap aparat kepolisian tidak lagi menggunakan bom atau meledakkan diri. Melaikan menyerang secara langsung menggunakan senjata tajam dan kontak fisik.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting menyebut, modus operandi dari kedua pelaku terduga teroris masuk dengan cara melompati pagar Mapolda Sumut.

“Lalu mengendap menuju pos penjagaan pintu 3 Mapolda dan melakukan penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang melakukan tugas jaga,” ujar Rina Sari Ginting seperti diberitakan SumutPos.co (Jawa Pos Group), Selasa (27/6).

Analisa itu dikuatkan dengan ditemukan sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi tewasnya Aiptu Martua Sigalingging. Di antaranya,3 bilah pisau bergagang kayu warna coklat, 1 buah mancis, 1 pasang sandal jepit, 1 stel seragam dinas Polri milik korban, 1 unit HP, 1 unit Handytalky (HT) milik korban.

Lantas dari hasil pengembangan, petugas menyita barang bukti berupa buku tulis sebanyak 155 buah, buku agama Islam sebanyak 26 buah, buku Tabanas Bank Mandiri 2 buah (dengan slip permohonan pinjaman uang), plat percetakan 4 buah.

Kemudian disita juga dua komputer, 1 unit HP milik percetakan SL, HP 1 unit milik IS, 4 buah KTP milik SP, MWD, Boboy dan SL, selanjutnya petugas menyita sepeda motor Honda Revo BK 2569 ABL dan Kawasaki BK 5850 TI.

Dari kediaman orang tua Ardial Ramadhana, pelaku yang tewas, polisi menyita buku nikah 2 buah, 1 lembar Kartu Keluarga, 1 buah Handphone merek Samsung, 1 buah kotak handphone merek Nokia.

“Tersangka dikenakan pasal 6, 7, Perppu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan pasal 340 KUHP Pembunuhan Berencana,” sebut Rina Sari Ginting.

(JPG)



loading...

Feeds