NH: Ruh Politik Itu Adalah Keberpihakan

Bakal Calon Gubernur Sulsel Nurdin Halid saat menggelar Safari Ramadan di Kabupaten Wajo, Senin (19/6/2017). Tampak didampingi Bupati Wajo Burhanuddin Unru dan Maqbul Halim. | POJOKSULSEL - GUNAWAN SONGKI

Bakal Calon Gubernur Sulsel Nurdin Halid saat menggelar Safari Ramadan di Kabupaten Wajo, Senin (19/6/2017). Tampak didampingi Bupati Wajo Burhanuddin Unru dan Maqbul Halim. | POJOKSULSEL - GUNAWAN SONGKI

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel HM Nurdin Halid (NH), berbagi sejumlah prinsip dalam menjalankan peran sebagai politisi. Salah satunya, terkait keberpihakan dalam dunia politik.

Menurut Ketua Harian DPP Golkar ini, menjadi politikus seperti bermain sirkus. Anda harus menguasai sebuah atraksi yang tidak lazim, dan tidak mudah ditiru oleh orang lain. Atraksi itu mutlak memukau dalam menyelesaikan sejumlah masalah.

“Salah satu alat ukur kepiawaian seorang politisi bisa dilihat dari sikapnya mempertahankan keberpihakan. Karena ruh politik di mata saya adalah keberpihakan,” tegas calon gubernur Sulsel yang menggandeng Abd Aziz Qahhar Mudzakkar ini di Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

Apapun dinamika yang terjadi dan dihadapi oleh seorang politisi, maka dia harus menghindari sikap netralitas. Mutlak menunjukkan keberpihakan kepada sistem. Di situ ada pilihan, dan pilihan itu berpijak di atas keberpihakan salah satu kutub. Jangan pula keluar dari sistem.

“Politisi yang ideal tidak mengenal kata netralitas. Memihak dua kutub yang bersebarangan dalam politik adalah kebimbangan,” tambah NH, Senin (19/6/2017).

Sikap netral seorang politisi di antara dua pilihan, sambung NH, adalah bentuk nyata ketidakberdayaan mrngelola konflik. Atau lebih tegas bisa jadi adalah sebuah kepalsuan.

“Sekali lagi, harus ada keberpihakan. Saya berdoa kepada Allah SWT, segala dinamika politik yang menanti di hadapan saya, bisa saya tunaikan dengan berpegang teguh pada ruh politik ini. Sebagaimana konflik yang telah saya lalui sebelumnya,” kata NH di sela-sela perjalanan Safari Ramadan menuju Wajo.

Lontaran tokoh nasional ini terinspirasi banyaknya politisi yang suka bermain dan berlindung di balik kata netralitas dalam sejumlah keputusan dan kebijakannya.

(gunawan songki/pojoksulsel)



loading...

Feeds