Ini Survei SMRC tentang Hizbut Tahrir Indonesia

Ilustrasi ormas HTI

Ilustrasi ormas HTI

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan, sebagian besar warga negara Indonesia tidak tahu mengenai cita-cita Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendirikan khilafah atau negara yang bersyariat Islam.

Setidaknya, 43,3 persen responden berdasarkan survei tersebut menyatakan tidak tahu bahwa cita-cita HTI adalah khilafah. Sisanya, 56,7 persen menyatakan mengetahuinya.

“Berbeda dengan ISIS, HTI kurang dikenal di tingkat massa nasional,” ujar Mujani saat membacakan hasil survei di Kantor SMRC, Cikini, Jakarta, Minggu (4/6/2017).

Bagi mereka yang tahu cita-cita HTI, 55,7 persen menyatakan tidak sepakat dengan perjuangan organisasi Islam itu. Dari yang tahu HTI, 11,2 persen setuju dengan cita-cita yang diperjuangkannya, atau sekitar 3,2 persen dari total populasi nasional.

Sementara dari yang tahu HTI, sebagian besar yakni, 75,4 persen tahu bahwa pemerintah berniat atau beropini mau membubarkannya. Dari situ, 78,4 persen  setuju dengan pembubaran HTI tersebut  atau sekitar 17 persen dari total populasi nasional. Sementara yang tak setuju ada 13,6 persen atau sekitar 3 persen dari populasi nasional.

“Sama seperti sikap terhadap ISIS, hampir semua warga menolak HTI dan bahkan mendukung opini bagi pelarangan HTI di tanah air,” tegas Mujani.

Kendati kecil yang positif mendukung  perjuangan HTI ini, berbeda dengan ISIS, nasionalisme bukan faktor yang memperlemah dukungan pada ormas Islam tersebut. Katanya yang memperlemah HTI adalah komitmen pada demokrasi, dan kondisi positif di tanah air dalam ekonomi, politik, hukum, dan keamanan, serta kinerja kepemimpinan nasional.

“Memburuknya kondisi faktor-faktor tersebut dapat memperkuat dukungan pada HTI,” ucapnya.

Sementara itu ditemukan, efek sentimen positif pada Habib Rizieq memperkuat dukungan pada HTI, dan demikian juga sebaliknya. Secara politik kepartaian, dukungan pada HTI beririsan dengan dukungan pada partai politik tertentu.

“Sikap positif pada HTI cenderung lebih banyak ditemukan pada pendukung PKS dan PPP dibanding pada pendukung partai-partai lain,” jelas Mujani.

Secara demografis, sikap positif pada HTI dapat ditemukan lebih banyak di kalangan warga perkotaan, dan berumur lebih muda. Simpatisan HTI juga cenderung lebih banyak di Jakarta dan Banten, cenderung juga lebih banyak di kalangan warga Minang.

“Kalau sikap publik diartikan sebagai sikap kebanyakan orang, dan aspirasi untuk melarang sebuah organisasi merupakan sikap yang memandang organisasi itu sebagai lawan atau musuhnya, maka ISIS, HTI, dan yang sejenis dengan itu adalah musuh publik Indonesia atau public enemy,” pungkas Mujani.

(dna/JPG)



loading...

Feeds