Polda Tahan 3 Tersangka Korupsi Laboratorium UNM, 1 Meninggal Dunia

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani, didampingi Wadir Reskrimsus Polda Sulsel AKBP Yukiar Kus Nugroho saat merilis status penahanan 3 tersangka dugaan korupsi Laboratorium Fakultas Teknik UNM, Selasa (23/5/2017). POJOKSULSEL/MUH FADLY

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani, didampingi Wadir Reskrimsus Polda Sulsel AKBP Yukiar Kus Nugroho saat merilis status penahanan 3 tersangka dugaan korupsi Laboratorium Fakultas Teknik UNM, Selasa (23/5/2017). POJOKSULSEL/MUH FADLY

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Ditreskrimsus Polda Sulsel telah resmi menahan 3 tersangka dugaan korupsi pembangunan gedung laboratorium terpadu Fakultas Teknik Universitas Makassar (UNM). Penahanan telah dilakukan sejak Senin (22/5/2017) sore kemarin.

Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani didampingi Wadir Reskrimsus Polda Sulsel AKBP Yukiar Kus Nugroho saat merilis status penahanan 3 tersangka itu, Selasa (23/5/2017).

Kabid Humas Polda Sulsel Dicky Sondani mengatakan, sebenarnya penyidik telah menetapkan 4 tersangka dalam kasus ini. Hanya saja, satu orang di antaranya telah meninggal dunia yakni Johny Anwar, yang berperan sebagai ketua tim teknis UNM.

“Dia meninggal karena sakit. Belum sempat ditahan, tapi statusnya sudah tersangka,” kata Dicky Sonadi.

Tiga tersangka lainnya adalah Edy Rachmat Widianto, selaku Dirut PT Jasa Bhakti Nusantara. Kemudian, Yauri Razak selaku tim leader manajemen konstruksi PT asta Kencana Arsimetama. Dan Prof Mulyadi selalu pejabat pembuat komitmen (PPK) UNT tahun 2015.

Dicky Sondani mengatakan, penyidik telah menemukan bukti kuat bahwa Edy Rachmat Widianto dan Yauri Razak, bersama-sama membuat laporan progres pengerjaan yang tidak sesuai dengan realisasi fisik. Dasar itu, kemudian dijadikan rujukan PPK melakukan pencairan dana.

“Realusais fisik sebenarnya baru 61,36 persen. Tapi rekanan ini melakukan markup pada laporan menjadi 75,29 persen,” kata Mantan Dirsabhara Polda Kepri itu.

Selain itu, lanjut Dicky Sondani, rekanan pun tidak dapat menyelesaikan pembangunan 100 persen sampai berakhirnya kontrak pada 31 Desember 2015.

Akhirnya, rekanan diberikan perpanjangan waktu penyelesaian pengerjaan proyek tersebut sampai 30 Maret 2016. Namun rekaman dalam hal ini PT Jasa Bakti Nusantara, hanya dapat menyelesaikan 82 persen pembangunan.

(muh fadly/pojoksulsel)



loading...

Feeds