MARHABAN YA RAMAdan: Bulan Masuk Surga Sekeluarga

Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz Bachtiar Nasir

BULAN takwa sudah berada di gerbangnya. Mudah-mudahan usia kita disampaikan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan bulan yang penuh ampunan itu. Sehingga kita bisa berada dalam dekapan Ramadan untk bersujud kepada-Nya atas dosa-dosa yang selama ini menggerogoti iman kita.

Melalui bulan itu kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT sebagai out put dari Ramadhan itu sendiri. Ramadhan juga menjadi pengingat bagi para ayah untuk meningkatkan keilmuannya agar bisa membawa keluarganya ke surga.

 

Jadikanlah Ramadan ini sebagai bulan masuk surga sekeluarga. Kenapa tema ini menjadi pilihan di antara tema-tema yang penting lainnya? Karena sering kali suami atau ayah lalai dari tanggung jawab utama.

Perceraian yang tinggi, kasus dekadensi moral di kalangan remaja seperti, pergaulan bebas, narkoba, tawuran, free seks, dan runtuhan moral lainnya. Kemerosotan moral itu terjadi karena tidak ada pendidikan akhlak di rumah. Ayah yang paling bertanggung jawab atas semua permasalahan tersebut.

Tulisan ini lebih dikhususkan kepada ayah dan pemuda calon ayah. Sehingga yang menjadi fokus bahasan adalah bagaimana agar Ramadan menjadi bulan masuk surga sekeluarga. Leadership yang kuat dimulai dari rumah dan itu tanggung jawab seorang ayah. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS untuk meminta keturunan yang baik:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Q.S. Ibrahim: 40)

Setelah menanamkan tauhid kepada anaknya Nabi Ibrahim AS kemudian berusaha menjadi tauladan kebaikan buat mereka. Karena sebagai seorang ayah jika sukses dalam mendidik maka efeknya akan berdampak pada keluarga besar dan ketika gagal efeknya juga akan tertular ke keluarga besarnya.

Anak-anak yang broken home atau istri-istri yang minta lepas dari suami biasanya terjadi karena kegagalan leadership di dalam rumah. Kegagalah seorang ayah memahami posisinya yang strategis dan mempunyai efek besar. Misalnya ketika kita melihat ayat tentang haji,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu….” (Q.S. al-Baqarah: 200)

Dalam ayat ini orang tua disebutkan dengan kata-kata abu (ayah) karena efek ayah gagal sangat besar kepada lingkungan keluarga. Di dunia ini hanya ada dua agama, yaitu agama Allah SWT dan agama orang tua. Agama orang tua adalah agama tandingan terhadap agama Allah SWT yang banyak dipengaruhi oleh ayah.

Pertemuan antara Ibrahim AS dan Islam AS memang tidak intens. Maka langkah yang diambil oleh Nabi Ibrahim AS sebelum mendidik anak dan istrinya adalah terlebih dahulu mendidik diri sendiri. Hidup Ibrahim AS menjadi tauladan yang baik sehingga keturunannya menjadi keturunan yang baik pula.

Alquran menggambarkan ada empat jenis laki-laki dan anak serta tiga jenis istri. Ini semua tergantung bagaimana posisi ayah membentuk rumah tangga.

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (Q.S. ali-Imran: 33)

Empat laki-laki ideal pilihan Allah SWT. Namun, dua laki-laki pertama (Adam AS dan Nuh AS) tidak disebutkan kata keluarga dan kata keluarga dilekatkan pada dua laki-laki setelahnya (Keluarga Ibrahim AS dan keluarga Imran AS).

Yang dijadikan model keluarga dalam ayat ini adalah Ibrahim dan Imran. Akan tetapi, bukan berarti Adam dan Nuh gagal menjadi ayah. Adam dan Nuh dijelaskan tentang kasus anaknya sehingga tidak dijadikan model dalam membina keluarga. Namun, hal ini tidak mencederai kasus keayahan.



loading...

Feeds