MARHABAN YA RAMAHAN: Merajut Serpihan Jiwa yang Terserak

KH Bachtiar Nasir

KH Bachtiar Nasir

KETIKA mata tidak menjadi saksi bagi pendengaran, ketika lisan tidak bertutur kebenaran, maka tangan akan menyentuh sembarangan, dan kaki akan berjalan tanpa tujuan.

Tubuh yang seperti itu bagai rumah yang tak bertuan karena sepenuhnya telah dikendalikan setan. Jiwa yang terserak adalah ketika telinga tidak tunduk dan taat, ketika mata tidak menjadi saksi bagi pendengaran, ketika lisan tak mengikrarkan apa yang didengar dan disaksikan.

Matanya entah kemana dan telinganya tak mendengarkan apa yang mesti didengarkan. Dia hanya serpihan-serpihan meski sosoknya utuh sebagai manusia. Ketika qalbu sudah dikuasai setan dan seluruh diri dan jiwa dikendalikan serta dikudeta.

Kepada orang seperti itu katakan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku” (Q.S. al-fajr:28-30)

Bagaimana merajut jiwa yang telah terserak? Pahami surat al-Fajr ayat 27-30. Merapatlah dan jadilah manusia seutuhnya setelah lama menjadi serpihan-serpihan berserakan.

Wahai jiwa yang tenang dengan kebenaran, wahai jiwa yang telah tenang dengan mengingat Allah, wahai jiwa yang akan tenang setelah bersyukur dan berzikir kepada Allah SWT. Kembalilah kepada keridhaan Tuhanmu dengan rasa puas terhadap nikmat yang telah dikaruniakan kepadamu terutama Ramadan yang sebentar lagi akan kamu dapatkan.

Puas pula dengan perbuatan yang telah kamu lakukan jika menjelang Ramadan ini, kau serahkan sepenuhnya dirimu dan hadapkan sepenuhnya kepada Tuhanmu.

Kemudian katakan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Q.S. al-An’am:79)

Sebentar lagi Ramadan kita jelang, beberapa saat lagi dia akan datang maka hadapkan sepenuh jiwa. Mari bersama-sama berikrar untuk mengeluarkan setan dari dalam diri. Kemudian hentikan kebiasaan setan dalam diri.

Memang setan dari kalangan jin akan dikerangkeng sebentar lagi tetapi sifat kesetanan yang telah menjadi kebiasaan akan terus berlangsung selama bulan suci Ramadan. Maka menghadaplah kepada Tuhan dengan penuh keridhaan dan sama-sama kita ikrarkan, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.

Deklarasikan dan teriakkan di dalam jiwa agar semuanya serempak menghadapakan segenap dimensi kemanusiaan, tubuh, ruh, pikiran, perasaan, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan semua ujung-ujung jemariku kepada Allah SWT. Kita fokus menghadapkan segenap diri kita kepada satu wajah Laa ilaha illalloh.

Karena Dia-lah yang telah menaklukkan segenap lapisan langit dan bumi beserta isinya. Fokus bukan kepada yang lain lagi dan berhentilah sejenak untuk melupakan hiruk-pikup dunia. Katakanlah, kalaupun langit akan runtuh dan bumi akan goncang asalkan jiwaku dan segenap diriku telah kuhadapkan sepenuhnya kepada laa ilaha illalloh dengan bimbingan Muhammadurasululloh.



loading...

Feeds