MARHABAN YA RAMAHAN: Muhasabah Diri dari Lumuran Dosa

Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz Bachtiar Nasir

TAK sabar rasanya batin ini menahan rindu pada fajar Ramadan yang menyingsing. Semburat cahayanya membawa hanyut jiwa-jiwa yang selama ini merindukan perjumpaan dengan Allah SWT. Sulit rasanya mengungkapkan betapa bahagianya hati ini.

Musafir perjalanan yang selama ini merindukan perjumpaan dengan Allah SWT kini akan berada dalam satu situasi yang dinanti-nanti. Ketika Allah begitu dekat, ketika rahmat terasa begitu jelas nampak di depan mata sangat bahagia.

Setelah berjalan sebelas bulan tertatih-tatih, akan berjumpa jua dengan bulan suci yang dinanti. Bahagia bukan kepalang ketika membayangkan berada dalam pangkuan Ramadan yang akan memberikan semua ketenangan, merealisasikan semua harapan, dan yang paling penting adalah ampunan dari semua kekhilafan dan dosa. Menata hati merajuk jiwa.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Q.S. al-Baqarah:185)

Ada dua peta jalan kehidupan dan kematian yang tertuang dalam surat al-Mu’miun ayat 11:

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

“Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Q.S. al-Mu’miun:11)

Jangan sampai menyesal di hari kiamat nanti karena ada yang sudah mati dan diperbicarakan kembali dengan perkataan yang tertuang dalam surat Al-Mu’min ini. Mereka akan berkata di neraka nanti dan ini sudah menjadi informasi awal dari Alquranul Karim, “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”

Kalbu yang bebal tidak mungkin bisa merasakan kesucian dan keberkahan bulan suci Ramadan. Mata yang redup tidak akan mungkin bisa melihat cahaya Ramadan. Artinya, ada orang yang sehari-hari menjalani hidupnya tapi tidak memahami hakikat perjalanannya.

Sungguh dia cuma bangkai-bangkai yang berjalan dan penduduk kuburan yang berkeliaran. Kadang kita menjadi seperti itu selama sebelas bulan dan kita telah bungkuk berjalan karena jasad telah berlumur dosa.

Hakikat perjalanan hidup ini adalah dari tiada menjadi ada. Allah yang adakan kita tanpa contoh lalu dia paparkan aturan dan memberikan petunjuk bagi yang diinginkan saja dan yang tidak diinginkan tentu berjalan tertatih-tatih dan tersesat. Jika demikian, lalu apa hakikat semua ini?

Hakikat kehidupan adalah perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah SWT. Subtansi kita semua ini dengan semua kreasi-kreasi yang kita lakukan adalah:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (Q.S. al-baqarah:156)

Telinga kita telah lama sesak dengan maksiat, mata kita telah lama berlumur dengan dosa, dan apalagi lidah sering kali tak terkontrol. Lalu apa jadinya dengan hati kita, padahal saringan kalbu adalah mata, telinga, dan lisan.

Sebelas bulan kita menjalani hidup dengan gumpalan dosa sehingga kalbu kita bagai tempat sampah bagi dosa mata, telinga, dan lisan. Kami tidak punya banyak kata untuk mengucapkan terima kasih jika diperjumpakan dengan bulan kemuliaan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan cahaya. Bermiliar terima kasih jika kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan.

Kita bisa menghitung detik dalam pangkuan Ramadan, berhitung menit dalam dekapan Ramadan, menghitung jam dalam sujud di hadapan Rabb sembari memohon ampunan atas lumuran dosa-dosa kita.

Penulis:

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)



loading...

Feeds