MARHABAN YA RAMAdan: Empat Musuh Besar Menuju Allah SWT

Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz Bachtiar Nasir

JALAN menuju Allah SWT bukan tanpa hambatan dan aral yang melintang. Setiap satu niat kebaikan, selalu ada penghambat agar kita tidak mencapainya.

Ada empat musuh besar yang selama ini menghambat perjumpaan dengan Allah SWT yaitu, keinginan sendiri, iblis dan setan, cinta dunia, dan takut mati. Empat musuh besar ini sudah lama bercokol dalam jiwa maka jika keempat hal ini masih dibiarkan berada dalam hati kita, tidak akan bisa merasakan kesucian dan keberkahan bulan Ramadan.

Jika masih selesai berwudhu itu artinya kita masih selesai bersuci, lalu kesucian apa yang kita sadari setiap usai berwudhu? Jika kalbu penuh sesak dengan musuh-musuh besar terutama empat musuh tadi, maka kalbu tidak akan pernah mendeteksi kesucian diri kecuali segar saja. Karena memang setelah berwudhu kita merasakan kesegaran itu tetapi belum tentu segar yang sesungguhnya.

Berwudhu bukan hanya segar sebagai tujuan, tapi untuk mencapai kesucian diri yang sesungguhnya. Ketika tangan dibersihkan artinya bahwa tangan telah menyentuh sembarangan, ketika mulut berkumur artinya bahwa mulut sering tidak jujur dan ketika tutur tidak sejalan dengan laku, ketika membersihkan hidung karena hidung telah disesakkan dengan penciuman yang haq, ketika membasuh wajah seringkali wajah ini tidak berhadap-hadapan dengan pemilik wajah.

Tapi coba bayangkan, bahkan berwudhu pun tidak disadari kesuciannya karea kotornya jiwa kita apalagi jika ditambah dengan empat musuh besar dalam diri manusia. Maka kita bisa bayangkan berapa banyak kotoran yang ada dalam diri kita.

Kenapa harus membasuh tangan sampai siku? Karena memang tangan kita sering menyikut yaitu dengki dan dendam, iri dan buruk sangka. Kenapa harus basuh kepala? Karena ada rambut dan isi kepala terutama pikiran kotor yang sering keluar.

Kenapa membasuh telinga? Karena kita sering mendengar hal-hal yang tak perlu didengar. Kenapa harus cuci kaki? Karena kita sering berjalan sembarangan tanpa tujuan dan sering melangkah tanpa arah.

Keuntungan terbesar adalah orang yang telah mendapatkan hidayah terutama hidayah al-Qur’an apalagi bisa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Orang yang hidup tanpa hidayah dan perlindungan hanya ada dua kemungkinan, terperosok dalam kegagalan atau terperangkap dalam keberhasilan. Kelihatannya naik jabatan dan sukses dan ia kelihatan tambah uang tetapi ia tambah panas dan tambah sengsara serta tambah jauh dari Tuhannya.

Hidayah dan perlindungan itulah yang kita butuhkan dari Allah SWT. Surga yang menjadi tujuan sesungguhnya bisa dirasakan sebelum masuk surga di akhirat kalau kita mendapatkan hidayah dan perlindungan dari Allah SWT.

Keberuntungan besar yang lain adalah keabadian nikmat. Orang-orang yang mendapatkan petunjuk sudah mendapatkan nikmat abadi, apalagi ketika dia mendapatkan perlindungan maka dia mendapatkan proteksi keabadian nikmat yaitu nikmat keabadian surga sudah dia dapatkan di dunia. Itulah keabadian nikmat dan keberuntungan besar.

Empat keberuntungan manusia adalah ketika dia mendapatkan hidayah al-Qur’an, mendapatkan perlindungan ar-Rahman, merasakan surga sebelum masuk surga, dan mendapatkan keabadian nikmat.

Kesucian, keberkahan dan kesyahduan suasana Ramadan tidak bisa dirasakan oleh kalbu yang bebal karena kalbu itu terkoyak. Cahaya Ramadan itu malamnya lebih terang daripada siangnya tapi mata yang redup, telinga yang tuli, lelap dibawa hanyut nafsu dan syahwat pada malam hari setelah bertahan di siang hari.

Cahaya Ramadan begitu menderang oleh jiwa yang tidak terserak. Lalu, apa itu hari yang terkoyak dan jiwa yang terserak?

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya” (Q.S. az-Zukhruf:36)

Sekejap saja hati tidak mengingat Allah sebagai ar-Rahman maka langsung dikoyak setan sebagai qariin (teman yang menyertai manusia).
Setan itu kemudian mengambil alih keseluruhan diri yang saat itu qalbu telah terkoyak dan lebih parah lagi ketika koyakan itu karena al-Qur’an tidak menjadi kebutuhan pokok. Lalau apa solusinya?

Saat ini kita berada pada satu momentum yaitu, saat-saat menanti bulan suci Ramadhan dan ketika ufuk kebahagiaan kita rasakan, maka persiapkanlah diri untuk memasuki bulan suci Ramadan.

Jika ingin merasakan kesucian dan kesyahduan Ramadan maka tatalah hati yang telah terkoyak selama sebelas bulan.

Dalam surat al-Ahzab ayat 41-42,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang” (Q.S. al-Ahzab:41-42)

Tatalah hati dengan cara yang telah dianjurkan dalam surat al-Ahzab ayat 41 dan 42. Dalam ayat ini ada tiga pintu dimana kita bisa berjumpa dengan Allah sangat cepat dan bisa merasakan sangat dekat dengan-Nya. Ketika pintu gerbang perjumpaan ini terbuka begitu lebar di Bulan Suci Ramadan.

Itulah puncak kebahagiaan, sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa diangkakan. Maka berzikirlah sebanyak-banyaklah terutama di waktu malam apa yang kita baca di waktu siang dan bertasbihlah pada saat pagi dan petang.

Kemudian di sepertiga akhir malam menjelang subuh perbanyaklah istigfar kepada Allah SWT. Maka kita telah berjumpa dengan Allah SWT dengan perjanjian yang waktu perjumpaan yang telah dijanjikan oleh-Nya. Seperti istilah lorong waktu yaitu, ingin melesat pada zaman yang ta terhingga maka ini adalah pintunya.

Ketika kekhusyuan dalam diri telah terjadi atau sinkronisasi telah terjadi antara diri kita dengan alam lewat isitgfar maka lorong waktu telah terbuka untuk kita. Kita akan berada pada satu zaman yang sangat menyenangkan dan berada pada satu keadaan yang paling membahagiakan. Akan tetapi, hal ini tidak bisa didapatkan secara tiba-tiba. Kita harus mempersiapkannya dan saat ini belum terlambat.

Sebentar lagi Bulan Suci Ramadan maka tunjukkan keseriusan dan kesungguhan kepada Allah SWT sejak hari ini. Agar kita tidak menjadi orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan yang sangat mahal itu.

Penulis:

KH Bachtiar Nasir
(Pimpinan AQL Islamic Center)



loading...

Feeds