ANALISIS: di Balik Kekalahan Ahok

Ahok saat akan menggunakan hak suaranya di TPS 54, Kompleks Pantai Mutiara, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (19/4). Foto: Adrian Gilang/JPNN.com

Ahok saat akan menggunakan hak suaranya di TPS 54, Kompleks Pantai Mutiara, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (19/4). Foto: Adrian Gilang/JPNN.com

SELURUH quick count yang melakukan penghitungan cepat terhadap pemilihan gubernur DKI Jakarta, menempatkan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno sebagai pemenang. Selisih angkanya lumayan siginifikan, sebab menghampiri 16%.

Terlepas dari kemenangan Anies-Sandi, tentu menarik dikaji ada apa dibalik kekalahan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot. Bukankah kandidat yang diusung lebih 60% suara parpol itu mendapat legitimasi dari pemerintahan Jokowi? Mungkin inilah satu-satunya Pilkada di Indonesia yang mendapat “amunisi” istana namun gagal melenggang sebagai pemenang.

Tentu kita bertanya? Kok Bisa? Bukankah sebagai petahana Ahok juga sebenarnya sangat bisa memanfaatkan perangkat pemerintahan untuk menggerakkan suaranya. Bukankah dengan alasan ini pula akhirnya Ahok tidak dipenjara? Bukankah karena alasan ini juga Ahok tetap menjabat sebagai gubernur meski berstatus terdakwa penistaan agama?

Begitu banyak pertanyaan yang muncul. Namun, akhirnya harus Ahok mengalah pada takdir. Dan, Ahok telah menyadari itu. Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, sesaat setelah mengetahui dirinya kalah versi hitung cepat, Ahok menyatakan kekuasaan itu datangnya dari Tuhan. Tuhan bisa mengambil kekuasaan itu, kapan saja.

Namun terlepas dari itu, menarik untuk diperbincangkan soal faktor yang mengubah konstalasi suara di DKI Jakarta yang membuat Ahok-Djarot tidak bisa melanjutkan periode kepemimpinannya.

Indikasi kekalahan Ahok sudah tercermin sejak beberapa hari sebelum pencoblosan. Indikasi pertama, adanya penundaan sidang penistaan agama dengan terdakwa Ahok. Penundaan ini erat kaitannya ada intervensi partai pengusung dan pemerintah.

Penundaan sidang ini, membuat publik marah dan merasa Ahok sangat diperlakukan istimewa oleh rezim berkuasa. Karena itu, muncul sentimen negatif dari publik.

Indikasi kedua, meski menyandang status terdakwa, Ahok tetap bisa bebas menghirup udara bebas. Ini sangat berbeda dengan perlakuan para terdakwa penistaan agama sebelumnya. Jangankan terdakwa, menyandang status tersangka saja sudah dilakukan upaya paksa penahanan. Ini tidak terjadi pada Ahok. Sentimen negatif publik pun muncul. Betapa Ahok sangat diistimewakan oleh rezim berkuasa.

Dua kasus ini saja, sudah sangat menggerus elektabilitas petahana. Ditambah lagi dengan video kampanye #BeragamItuAhokDjarot yang seolah memosisikan umat Islam sebagai agama kekerasan dan menjadikan warga keturunan sebagai warga yang kerap terintimidasi. Reaksi para tokoh Islam pun bermunculan. Hampir semua menyesalkan beredarnya video ini.

Indikasi ketiga, di saat-saat injury time muncul politik sembako. Ironisnya, politik sembako ini justru dipersepsikan ke tim Ahok-Djarot lantaran banyaknya video dan foto penerima sembako berbaju kotak-kotak.

Tidak heran, saat konferensi pers di Jakarta, Ketua Umum Partai Gerindra sempat menyelipkan candaan berterima kasih ke orang atau kelompok yang telah menyumbangkan sembako secara cuma-cuma. Ini ledekan Prabowo yang seolah ingin mengatakan “ambil sembakonya, pilih Anies-Sandi”.

Indikasi Keempat, yakni menyatunya kelompok koalisi kebangsaan untuk memenangkan Anies-Sandi. Dari sejumlah orang yang diperkenalkan Prabowo saat konferensi pers, ada dua figur yang menarik perhatian publik.

Kedua tokoh itu, yakni Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Aburizal Bakrie dan pengusaha nasional Erwin Aksa. Secara khusus Prabowo bahkan menyebut Aburizal Bakrie sebagai mentor tim.

Sementara Erwin Aksa, dipersepsikan kehadiran Wapres Jusuf Kalla dalam tim Anies-Sandi ini. Meski Jusuf Kalla tidak terang-terangan mendukung Anies-Sandi, namun munculnya Erwin yang tidak lain ponakan JK, memberi gambaran bahwa JK mendukung Anies.

(mukhramal azis/pojoksulsel)



loading...

Feeds

prostitusi gay, prostitusi gay terbongkar, polisi bongkar prostitusi gay, aplikasi gay di playstore, aplikasi gay, lgbt, aplikasi kaum gay di playstrore

STUdi: Gay Itu Ternyata Menular

POJOKSULSEL.com – Hasil penelitian yang dilakukan oleh CSOA menyebutkan, bahwa homoseksualitas adalah kondisi yang paling menular yang pernah ada di …