Menghitung Kekuatan AQM

Nurmal Idrus

Nurmal Idrus

BELUM ada kata pasti meski sudah mendekati kenyataan. Jika akhirnya Nurdin Halid memilih berpasangan dengan Azis Qahhar Mudzakkar (AQM), maka mari kita mencoba mengukur kekuatan keduanya terutana AQM sendiri.

Sungguh, Azis adalah fenomena tersendiri dalam perpolitikan Indonesia. Tak ada seorang peserta kontestasi perebutan suara perseorangan di negeri ini yang bisa menyamai kemampuannya dalam mengumpulkan dukungan.

Ia fenomenal karena semua didapatnya bukan karena kekuatan finansial yang besar atau karena sokongan keluarga yang menggurita.

Dukungan suaranya dalam pemilihan anggota DPD selama tiga periode pemilu tak pernah berkurang bahkan terus menanjak meski lawan yang dihadapinya berganti.

Catatan perolehan suara di pemilu terakhir tahun 2014 amat mencegangkan, menembus lebih dari 1 juta suara. Ketika mengikuti kontestasi Pilgub 2013, bersama dengan Ilham Arief Sirajuddin, ia mendapuk hingga 1,7 juta suara.
Sebuah angka yang fantastis karena dia menantang Syahrul Yasin Limpo (SYL), incumbent yang ketika itu mengendalikan segala-galanya.

Jika duetnya dengan NH ini benar-benar terwujud, maka inilah mungkin impian AQM yang sempat tertunda.
Lima tahun lalu, sebelum digaet Ilham, Azis sempat menyatakan untuk memuluskan perjuangan politik keummatannya maka dia butuh penguasaan jaringan dan ekonomi.

Penguasaan itu membuatnya bisa leluasa dalam mengendalikan banyak pendukungnya di grass root yang tak bisa disentuhnya dengan cara kampanye konservatif seperti yang selama ini digunakannya. NH jelas memiliki dua syarat itu.

Kemampuan jaringan NH yang ditopang Golkar menggurita hingga jajaran birokrasi yang lima tahun lalu tak dimiliki Ilham. Kini, hampir separuh kepala daerah di Sulsel adalah pemimpin Golkar.

Bagi Azis ia memerlukan ruang yang lebar untuk memasuki wilayah terdalam pendukung fanatiknya yang terserak di banyak tempat. Saat bersama Ilham, keinginan itu terpatahkan oleh karena tekanan birokrasi yang tak memberinya ruang gerak.

Keterbatasan finansial kini juga dipastikan teratasi. Jejaring NH yang kuat, membuat Ketua Golkar Sulsel nyaris tak punya masalah dengan persoalan pendanaan kampanye.

Wilayah garapan Azis akan makin dalam karena ia punya sarana finansial yang besar untuk memasuki wilayah yang selama ini sulit untuk ditembus dengan hanya modal fanatisme dan loyalitas.

Geopolitik keduanya juga terhitung dahsyat. Jika Azis tak diganggu dengan figur lain dari Luwu Raya, maka bisa dipastikan ia akan menyatukan kekuatan Luwu. Ia kini punya ruang gerak lebih lebar karena ditopang 3 kepala daerah pro NH di Luwu. Potensi perolehan suaranya bisa mencapai lebih dari 400 ribu suara di wilayah ini.

Basisnya di luar Luwu Raya seperti Makassar, Bone, Enrekang, Sidrap, Bulukumba, Gowa, Wajo, Jeneponto juga terjaga. Untuk wilayah di luar Luwu Raya potensi raihan suaranya bisa melebihi 1 juta dikungan.

Nurdin Halid sendiri akan menjadi kekuatan pendorong bagi AQM. Ia menjaga kedalaman gerakan AQM dengan penguasaan pada infrastruktur yang didukung kemampuan finansial yang bagus.

Jika NH mampu memunculkan memori berupa sejarah kepemimpinan orang Bone di pemerintahan Sulsel, maka pasangan ini amat sulit untuk ditandingi. Kini, medan pertempuran dan lawan sudah berubah.

Tak ada lagi SYL yang punya kemampuan ‘magic’ dalam merancang dan mengubah realitas politik Sulsel.
Hanya ada Nurdin Abdullah, Agus Arifin Nu’mang, Ichsan Yasin Limpo, Rusdi Masse, Burhanuddin Baharuddin, Akbar Faizal, Rivai Ras dan beberapa figur lain yang akan bertarung.

Akankah AQM bisa memanfaatkan semua kelebihannya itu. Dengan lawan yang berbeda, pasangan yang lebih menjanjikan dan medan tempur yang khas, AQM perlu lebih berhitung secara cermat agar keunggulan bisa dikonversi menjadi kemenangan.

Penulis:

Nurmal Idrus
* Direktur Nurani Strategic



loading...

Feeds