Elit NU Dinilai Bermain di Pilkada DKI, Kader Daerah Mundur

Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama

INTERNAL Nahdlatul Ulama (NU) saat ini sepertinya bergejolak di tingkat daerah. Semua itu lantaran sikap dari kelembagaan ormas Islam itu terkesan “bermain” di Pilkada DKI Jakarta. Bahkan permainan itu dilakoni sejak awal proses pesta demokrasi tersebut.

Buntut dari permainan yang jalani itu membuat kader ormas Islam terbesar di Indonesia bereaksi di daerah, seperti halnya yang terjadi Pengurus Cabang NU (PCNU) Barat Daya (Abdya). Reaksi di sana tidak hanya dari pengurus inti saja, melainkan seluruh elemen yang terkait dengan NU.

Melihat kondisi seperti ini, Pengamat Politik dari LIPI Siti Zuhro menilai, sebetulnya ekspresi NU melalui sejumlah keputusan partai politik (parpol) berazaskkan Islam di putaran pertama, sangat jelas tidak mendukung calon incumbent. “Buktinya PPP dan PKB, dua parpol berbasis massa NU mendukung Agus-Sylvi,” ujar Siti, Senin (17/4).

Keputusan tersebut, lanjut dia, bisa dibaca sebagai keengganan partai-partai Islam atau NU mendukung Ahok-Djarot secara langsung. Kendati demikian, dinamika yang ada saat ini sangat jelas bahwa NU mulai menggerakkan massanya menolak kelompok pembesar Islam radikal. Organisasi-organisasi seperti itu disebut-sebut terafiliasi dengan duet Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Di lain sisi, NU menganggap bahwa pasangan petahana sebagai wasilah atau perantara mempertahankan NKRI. “Awalnya NU tidak secara eksplisit menyampaikan dukungannya ke Ahok. Namun dalam perkembangannya tampaknya tidak menolak meskipun tidak mendukung,” tutur Siti.

Bentuk gerakan NU secara kelembagaan ormas terlihat dari awal Pilkada DKI Jakarta. Seperi halnya mantan Ketua GP Ansor Nusron Wahid begitu total membela figur Basuki Tjahaja Purnama yang tengah kontroversi. Bahkan dia sempat menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Ahok-Djarot, sebelum akhirnya diganti.

Bentuk sikap NU yang condong mendukung Ahok-Djarot itu seperti statemen Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas beberapa waktu lalu. Dia menyatakan, GP Ansor menolak kelompok Islam radikal seperti FPI dan HTI.

Penolakan itu memang tidak menunjukkan secara gamblang GP Ansor mendukung duet petahana. Mereka menganggap Ahok-Djarot sebagai perwakilan dari kemajemukan bangsa untuk mempertahankan NKRI. “Pak Ahok, Pak Djarot sebagai wasilah sebagai perantara mempertahankan negara ini. Sudah tidak ada pilihan, ini wasilah,” kata Yaqut Cholil Qoumas belum lama ini.

Sementara itu, Said Aqil Siradj yang dituding kader NU di daerah telah bermain di Pilkada DKI Jakarta belum memberikan penjelasan tegas soal sikap di pesta demokrasi Ibu Kota.

Dia mengaku belum mengetahui adanya kader NU membubarkan diri dari struktur organisasi di Aceh Barat Daya (Abdya). “Belum dengar tuh, belum dengar,” ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Senin (17/4).

Said Aqil mengatakan, dia belum mendapat laporan apapun secara resmi mengenai kabar pembubaran diri tersebut. “Saya belum dengar ada laporan membubarkan resmi,” tandasnya.

(uya/JPG/pojoksulsel)



loading...

Feeds

Tiara Dewi dan Lucky Hakim. FOTO: Dok. Jawa Pos

Lucky Hakim Lebaran tanpa Istri

POJOKSULSEL.com – Lucky Hakim akan menghabiskan lebaran tahun ini hanya seorang diri. Pasalnya, istrinya Tiara Dewi memutuskan berangkat melakukan ibadah …