Warga Palopo Gelar Maccera Tasi, Pesta Laut Rakyat di Pelabuhan Tanjung Ringgit

POJOKSULSEL.com, PALOPO – Ratusan perahu berjejer di sepanjang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Palopo. Namun, di antara ratusan perahu tersebut, tampak tiga perahu yang mengapung di tengah laut. Tiga perahu tersebut menopang sebuah panggung megah yang berdiri di batas antara pasang dan surut laut. Panggung kecil di atas laut itu disebut Ance yang berfungsi sebagai singgasana raja muda.

Ketika terik mentari pagi bersinar panas dan menyengat, terlihat sebuah mobil berwarna hitam mendekati TPI Palopo. Keluar seorang lelaki bertongkat dari dalam mobil tersebut. Lelaki itu mengenakan baju adat kerajaan berwarna hitam. Dialah Datu Luwu Andi Maradang Makkulau Opu Tobau Di belakang Opu Datu tampak empat gadis berbaju adat Sulawesi Selatan berwarna merah marun memayungi kepala Sri Paduka Datu Luwu sembari berjalan ke arah TPI Palopo.

Siang ini, Senin (10/4/2017), jam sudah menunjukkan pukul 11 ketika Opu Datu Luwu menaiki perahu beratapkan kelambu keemasan. Puluhan perahu lain pun mengelilingi perahu Opu Datu Luwu, layaknya rakyat mengelilingi raja mudanya. Hal ini menjadi tanda bahwa ritual adat Pesta Laut Maccera Tasi akan dimulai.

Maccera tasi Palopo 2010 (112)(2)

Tak lama kemudian, sebuah perahu nelayan dengan panjang sekitar sepuluh meter mendekati perahu yang diduduki oleh Datu Luwu. Perahu tersebut bernama Perahu Pua Puawang. Puluhan perahu lain pun ikut mengiringi di belakang Perahu Pua Puawang. Tampak dua orang lelaki berjas hitam dan memakai sarung kotak-kotak turun dari Perahu Pua Puawang. Mereka adalah pemangku adat Sulawesi Selatan. Mereka menginjakkan kaki di atas perahu Opu Datu Luwu.

Sementara itu, di belakang pemangku adat, tampak seorang lelaki muda menjunjung seorang gadis. Mereka juga berpakaian adat Sulawesi Selatan. Mereka menuju singgasana Opu Datu Luwu guna melaksanakan ritual cium tangan kepada Opu Datu Luwu.

Setelah lelaki dan gadis melakukan cium tangan kepada Opu Datu Luwu, para pemangku adat kembali ke Perahu Pua Puawang. Perahu Pua Puawang pun menuju ke arah Ance (singgasana Raja Muda) dan mengelilingi Ance sebanyak tiga kali. Setelah itu, perahu yang ditumpangi Opu Datu Luwu dan Kapal Pua Puawang merapat ke Ance.

Opu Datu Luwu beserta para pemangku adat naik ke panggung kecil tersebut. Walikota Palopo, H.Muhammad Judas Amir pun menaiki singgasana tersebut dan duduk di atas kursi yang telah disediakan. “Matikan semua mesin kapal !” seru salah seorang pemangku adat.

Usai seruan tersebut, tak lagi terdengar suara mesin perahu yang mengiringi perahu Opu Datu Luwu dan Perahu Pua Puawang. Suasana hening terasa di tengah laut. Ratusan pengiring ritual ini nyaris tak bersuara. Berdasarkan adat, ritual hening ini bertujuan perekatan dan pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ritual pun dilanjutkan dengan turunnya pemangku adat dari Ance ke Perahu Pua Puawang. Di kapal ini, pemangku adat membuang sebuah tabung dari rakitan bambu. Tabung itu berisi hasil bumi. Para nelayan dihimbau mengambil isi tabung rakitan bambu tersebut jika isi tabung itu sudah terendam semuanya.

Usai melakukan ritual tersebut, Perahu Pua Puawang dan perahu yang ditumpangi Opu Datu Luwu kembali ke pantai. Perjalanan kedua perahu itu kembali diiringi oleh ratusan kapal nelayan. Setibanya di daratan, ritual kembali dilakukan. Para pemangku adat menyerahkan sepiring nasi ketan empat warna kepada petani. Ritual ini bernama Mappangngolo Lise Rakki.

Kepala Dinas Kebudayaan , Andi Naga Uleng SE, menuturkan, pegelaran pesta laut Maccera Tasi bertujuan tidak hanya sebagai acara adat, tetapi juga sebagai penarik wisatawan ke Kota Palopo.

Ia menambahkan, ritual yang dilakukan oleh masyarakat Palopo juga memiliki banyak makna. “Contohnya, ritual pemangku adat membuang rakki (tabung rakitan dari bambu berisi hasil bumi) ke laut. Ritual ini bermaksud menyerahkan kekayaan laut nelayan kepada Allah SWT,” ungkapnya. Selain itu, nelayan harus mengambil isi rakki yang sudah terendam guna mendapatkan berkah bagi nelayan yang berhasil mengambilnya. Hal ini sudah menjadi ritual adat turun temurun dalam tiga tahun sekali.

Usai melakukan beragam ritual di atas, beberapa perlombaan pun dilaksanakan untuk memeriahkan pesta laut tersebut. Lomba yang diadakan cukup unik, seperti lomba tangkap bebek, lomba panjat pinang di laut, dan lomba mengikat batu di jaring.

(bayu/pojoksulsel)



loading...

Feeds