Rinding Allo di Lutra Ditetapkan Sebagai Desa Wisata

Pemandangan alam di Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Lutra, Sulsel yang ditetapkan sebagai Desa Wisata.

Pemandangan alam di Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Lutra, Sulsel yang ditetapkan sebagai Desa Wisata.

PEMERINTAH Daerah Kabupaten Luwu Utara (Lutra), melalui Dinas Budaya dan Pariwisata, menetapkan Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong sebagai Desa Wisata.

Penetapan tersebut bukan tanpa alasan yang kuat. Mengingat letak geografis Kecamatan Rongkong yang berada di daerah pegunungan, kurang lebih 800-1.500 di atas permukaan laut, maka keunikan tersebut menjadi salah satu faktor penetapan Rongkong sebagai Desa Wisata.

Belum lagi berbicara tentang adat dan budaya di sana, termasuk keindahan panoramanya serta segala tantangan yang memacu adrenalin tatkala melintasi medannya.

Untuk memantapkan Desa Rinding Allo Kecamatan Rongkong sebagai objek program pengembangan pariwisata, maka Kamis 2 Maret kemarin, Dinas Budaya dan Pariwisata, bersama masyarakat desa setempat, melakukan pertemuan dengan pihak Konsorsium Hijau Lestari Tana Luwu di Aula Kantor Camat Rongkong. Pertemuan tersebut dipimpin Staf Ahli Bidang Hukum, Hakim Bukara, yang hadir mewakili Bupati Lutra Indah Putri Indriani.

Di hadapan pihak konsorsium, Hakim Bukara mengucapkan terima kasih atas partsipasi dan peran aktif pihak konsorsium sehingga Desa Rindind Allo ditetapkan sebagai salah satu objek wisata program pengembangan pariwisata di Luwu Utara.

“Mewakili Ibu Bupati, kami atas nama pemerindah daerah mengucapkan terima kasih kepada pihak konsorsium atas peran aktifnya dalam penentuan Desa Rinding Allo sebagai objek pengembangan pariwisata di Luwu Utara,” ujar Hakim yang juga eks Kadis Porabudpar ini.

Hakim juga meminta seluruh masyarakat desa Rinding Allo untuk terlibat langsung dan berperan aktif secara massif menyukseskan program tersebut.

“Saya minta juga masyarakat desa untuk melibatkan diri secara aktif karena program ini merupakan program ekowisata di mana masyarakat sebagai objek utama dalam penentuan sukses tidaknya program ini,” pinta Hakim.

Dia menambahkan bahwa program ini sejalan dengan visi misi pemerintah daerah yang menjadikan budaya dan kearifan lokal sebagai salah satu pedoman pembangunan.

Sementara itu, Manajer Konsorsium Hijau Lestari Tana Luwu, Bata Manurun, mengungkapkan bahwa Konsorsium Hijau Tana Luwu telah bekerja sama dengan salah satu konsorsium di Amerika. Selain itu, ungkap Bata, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan BAPENAS dan Program Ekowisata.

“Kita juga telah melakukan kerjasama dengan salah satu konsorsium di Amerika, juga dengan BAPENAS,” ujar Bata sembari menambahkan bahwa program Pengembangan Wisata cuma ada dua daerah yang dipilih. Selain Luwu Utara, satu daerah yang dipilih adalah Luwu Timur.

Program ini, lanjut Bata, adalah mendorong bagaimana ekonomi masyarakat bisa meningkat dan pengetahuannya bertambah. Bata juga menambahkan, ditetapkannya Desa Rinding Allo sebagai Desa Wisata karena dianggap sebagai pintu masuk Kecamatan Rongkong.

“Program ini bertujuan bagaimana ekonomi masyarakat bisa meningkat. Kenapa kami memilih Desa Rinding Allo, karena desa ini adalah pintu masuk Kecamatan Rongkong, view Rongkong itu ada di Desa Rinding Allo” ungkap Bata.

Masih kata Bata, Desa Rinding Allo memiliki sejuta potensi wisata yang layak dipromosikan. Sejuta pesona Rongkong yang bisa mengundang nafsu travelling orang luar adalah salah satu magnet yang membuat Rongkong itu unik, sehingga daya tariknya begitu kuat. Rongkong memiliki banyak potensi wisata yang ditunjang dengan kultur budaya dan adat istiadat yang masih kental terpelihara oleh masyarakatnya

“Rongkong terpilih karena selain pemandangan yang indah dan masih memilihara budaya dan adat istiadat yang baik, juga memiliki objek wisata air terjun, tempat-tempat besejarah, permandian air panas dan perkebunan kopi milik masyrakat serta yang paling menarik adalah Rongkong sepanjang masa diselimuti kabut, sehingga itu yang menarik kami sebagai konsorsium untuk mengembangkan ekowisata di Kecamatan Rongkong, khususnya desa Rinding Allo.

Sementara itu Kadis Budaya dan Pariwisata, FP. Patuang, berharap konsorsium tidak hanya mengembangkan wisata di Rinding Allo saja, tetapi bisa menjadikan Kecamatan Rongkong sebagai kawasan wisata yang lebih luas lagi.
“Jadi kami harap kepada konsorsium kiranya tidak hanya Desa Rinding Allo, tetapi ke depan Kecamatan Rongkong dijadikan kawasan wisata yang ada di Luwu Utara” harap FP. Patuang yang juga Tomakaka Rongkong ini.

Rilis:

Humas dan Prokoler Pemkab Luwu Utara

(Lukman Hamarong)



loading...

Feeds

mudik, jalan rusak, jalur trans sulawesi rusak, trans sulawesi rusak, mudik jalan rusak, jalan rusak ke palopo, mudik 2017

Mudik yang Mengecewakan

SEMINGGU sebelum Lebaran, saya membayangkan jalur mudik trans Sulawesi mulus. Paling tidak tidak ada hambatan berarti. Saya membayangkan, jalur ini …