Polemik Sengketa Tanah Kodam VII/Wirabuana Vs Warga Bara-baraya

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Sengketa tanah antara pihak Kodam VII/Wirabuana dengan warga Bara-baraya bermula saat tahun 1959. Kala itu Kodam VII menyewa tanah seluas 28,970 meter persegi dari Nurdin Nombong yang tak lain adalah ahli waris dari Moedhinong Dg Matika.

Berdasarkan rilis dari Kodam VII/Wirabuana yang diterima pojoksulsel.com, kesepakatan kemudian diperpanjang pada tanggal 1 Januari 1967.

Pada tanggal 9 Mei 2016, pihak ahli waris dalam hal ini Nurdin Nombong mengajukan permohonan pengembalian tanah sewaan dengan berdasarkan surat-surat yang sah. Dalam permohonan tersebut, pihak ahli waris menginginkan tanah tanpa beban (bangunan).

Pihak Kodam VII kemudian melakukan penertiban bangunan di atas tanah yang dimaksud. Seperti diketahui bahwa tanah tersebut sebelumnya digunakan sebagai asrama. Penertiban tahap I dilakukan atas lahan seluas 22.064 meter persegi dari total luas 28.970 meter persegi yang dihuni oleh 102 KK di asrama Bara-Baraya.

Adapun sisa lahan seluas sekitar 6.887 meter persegi yang masih diisi oleh 28 rumah berikut penghuninya telah diberikan surat edaran sampai surat peringatan pertama untuk pengosongan.

Pemkot Makassar, dalam hal ini Walikota, telah melakukan pertemuan dengan pihak Kodam VII/Wirabuana. Pertemuan tersebut untuk membahas tentang rumor bahwa akan dilakukan pengosongan lahan seluas 72 Ha di lahan yang dimaksud.

Kodam VII/Wirabuana pun membantah rumor yang terlanjur beredar di masyarakat. Pangdam VII pun menegaskan bahwa objek yang akan ditertibkan hanyalah seluas 6.887 meter persegi. Para warga yang masih menghuni lahan tersebut dihimbau untuk segera mengosongkan lahan agar ahli waris dapat mendapatkan kembali haknya.

(ihsan azis/pojoksulsel)



loading...

Feeds