Teka Teki Tewasnya Herni Minum Racun Rumput Hingga Pernikahan Heboh di Barru

Ahmad Haidir memeluk kekasihnya, Erni sesaat setelah mengembuskan napas terakhir di RSUD Parepare, Kamis dinihari, 2 Februari. Foto: DOK KELUARGA FOR FAJAR

Ahmad Haidir memeluk kekasihnya, Erni sesaat setelah mengembuskan napas terakhir di RSUD Parepare, Kamis dinihari, 2 Februari. Foto: DOK KELUARGA FOR FAJAR

POJOKSULSEL.com, BARRU – Motif kematian Herni, bukaan Erni seperti diberitakan sebelumnya, tetap menjadi misteri. Semua orang bertanya-tanya. Bahkan orang tua dan sang kekasih, Ahmad Haidir, dibuat penasaran. Mereka hanya tahu dia meminum racun rumput sebelum mengembuskan napas terakhir.

“Saat dibawa ke Puskesmas dia hanya mengucap maaf telah berbuat hilaf. Setelah itu dia tak pernah lagi sadarkan diri hingga meninggal,” kisah sang ibu, Wati kepada FAJAR (JawaPos Group), Minggu, 5 Februari.

Wati mengaku tak habis pikir mengapa putri keduanya itu memutuskan memilih cara tersebut untuk mengakhiri hidupnya. Padahal, sehari-sehari wanita yang baru saja menamatkan pendidikan di STIKES Baramuli ini dikenal periang. Setahu orang terdekatnya, dia tak ada masalah dengan siapapun.

Herni yang alumni sekolah kesehatan itu, justru sering memperingatkan keluarganya agar tidak sembarangan menyimpang benda-benda beracun. Maklum, orang tuanya seorang petani, kerap menggunakan pestisida.

“Jangankan racun. Saat kami akan meminum obat, dia selalu berpesan agar mengikuti petunjuk dokter. Makanya kami heran mengapa terjadi seperti ini,” tutur Wati.

Keluarga korban juga sempat meminta penjelasan kepada Edi, sapaan Ahmad Haidir, terkait hubungan mereka selama ini. Menurut pengakuan sang kekasih, seperti ditirukan ibu korban, sejak mereka berkenalan hingga pacaran, tak pernah ada pertengkaran.

“Berjalan biasa saja, tak ada yang ditutup-tutupi,” aku Edi pada Wati.

Baik Wati maupun suaminya, La Juma, serta keluarga besar mereka, mengaku tak pernah menghalangi niat keduanya untuk menikah. Sejak Herni memperkenalkan Edi, tak pernah ada kata penolakan telontar.

“Asalkan mereka bahagia, kami setuju-setuju saja,” tutur Wati.

Demikian pula dari pihak keluarga Edi di Nias, Sumatera Utara. Lewat telepon, dia mampu meyakinkan orang tuanya untuk memberikan restu. Termasuk merelakan sang putra menjadi mualaf jelang pertunangan. Kedua belah pihak sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan pada Oktober mendatang dengan mahar Rp40 juta.

Menurut Husban, kakek korban, sudah beberapa kali Edi datang menemui mereka. Menyatakan keseriusan dan keinginan menjadikan Herni sebagai istri.

“Asalkan saling suka kami pun memberi restu,” akunya.

Upaya FAJAR mendapat konfirmasi langsung dari Edi, tak membuahkan hasil. Setelah meladeni wawancara singkat pada Minggu malam, 5 Februari, pria yang kini bekerja di Enrekang tersebut seolah menutup diri. Nomor ponselnya tak lagi aktif.

Yang jelas, cintanya pada Herni memang begitu dalam. “Dia istri saya dan akan selamanya menjadi istri saya,” sebutnya, Minggu, 5 Februari.

Di akun Facebook-nya, Edi bahkan masih meng-upload foto-foto Herni jelang kematiannya. Terakhir di-upload pada Kamis, 2 Februari pukul 18.50 Wita.

Kisah cinta yang berakhir tragis ini pun langsung menuai reaksi banyak pihak. Di media sosial, tak sedikit yang mengagumi kesetiaan Edi. Namun, sejumlah pihak juga menyayangkan digelarnya pernikahan dengan mayat yang dianggap tak lazim. Dalam Islam, tak bisa dianggap sah jika salah satu rukun nikah tak terpenuhi.

Menanggapi hal ini, pihak keluarga yang diwakili oleh Syamsuddin, paman korban, mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Jumat, 3 Februari sebelum pemakaman Herni.

“Saya ada di tempat waktu itu. Kami mengundang imam kampung untuk mengurus jenazah, bukan untuk menikahkan,” elaknya.

Kepala KUA Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Firman, mengaku tidak tahu persis masalah itu. Yang jelas, tidak ada berkas administrasi yang mereka terima. Hanya saja, akunya, Edi memang pernah datang ke KUA. Dia minta dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Dia bilang akan menikahi wanita muslim di wilayah kami. Hanya itu. Kalau administrasi nikahnya kami tidak terima,” jelasnya.

(fajar/pojoksulsel)



loading...

Feeds

Walikota Palopo Judas Amir saat menerima predikat WTP dari BPK

Kota Palopo Pertahankan Predikat WTP

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Pemerintah Kota Palopo kembali meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) berdasarkan penilaian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Wali …
Kantor BNI Poso yang ambruk akibat gempa berkekuatan 6,6 SR mengguncang Kabupaten Poso, Sulteng. IST

Kantor BNI Poso Ambruk Diguncang Gempa

POJOKSULSEL.com, POSO – Gempa bumi berkekuatan 6,6 RS yang mengguncang Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Senin (29/5/2017) malam, menyebabkan Kantor …
berita bola, berita makassar, berita sulawesi selatan, berita terbaru, berita terbaru makassar, berita terkini, berita terkini makassar, bola terkini, kartu merah wasit, makassar, pojok sulsel, pojoksulsel.com, sulawesi selatan, sulsel, wasit argentina ditembak mati, wasit ditembak mati

Seperti Ini Kualitas Wasit Indonesia

POJOKSULSEL.com – George Cumming, konsultan wasit asal Skotlandia, yang didatangkan PSSI menyebutkan, seorang wasit yang bisa memimpin laga dengan baik, …