Perbedaan PSM Makassar dan Persebaya ala Jacksen Tiago

Jacksen F Tiago

Jacksen F Tiago

POJOKSULSEL.com – Ada dua klub besar di Tanah Air yang begitu membekas di dalam benak Jacksen Ferreira Tiago.

Kedua klub itu adalah PSM Makassar dan Persebaya Surabaya. Maklum, pria 48 tahun yang semasa aktif berperan sebagai bomber tersebut pernah menambatkan karirnya di dua klub legendaris tanah air itu.

 

PSM menjadi klub luar Jawa pertama dan terakhir yang disinggahi oleh Jacksen. Sebab, sepanjang tujuh musim karirnya di Indonesia banyak dihabiskan di pulau terbesar kelima setelah Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi tersebut.

Adapun Persebaya menjadi klub yang paling berkesan di hati pria kelahiran Rio de Janeiro, Brasil itu.

Sebab, sebagai pemain, sepanjang dua periode, 1996-1998 dan 1999-2000, Jacksen tidak hanya membantu Persebaya meraih trofi Liga Indonesia musim 1996-1997, namun juga memungkasinya dengan gelar top scorer setelah menorehkan 26 gol.

Kemudian, kiprahnya di Green Force, julukan Persebaya, mencapai paripurna ketika dia mempersembahkan bintang kedua pada musim 2004 silam.

“Boleh dibilang, kedua klub itu sangatlah berkualitas,” papar Jacksen via pesan elektronik kepada Jawa Pos tadi malam (9/1/2017). Jacko, sapaan akrab Jacksen, mengatakan bahwa kekuatan Persebaya terletak pada kecepatan yang dimiliki oleh setiap pemainnya.

Ketika menjadi juara Ligina di musim 1996-1997, saat itu Persebaya diperkuat oleh pemain-pemain yang memiliki speed maupun kelincahan ketika mengolah si kulit bundar.

Di barisan pertahanan misalnya. Persebaya mempunyai dua fullback Anang Ma’ruf dan Aji Santoso yang tidak hanya hebat membantu serangan, namun juga kembali ke posnya demi menopang duet jantung pertahanan Justinho Pinhiero-Bejo Sugiantoro.

Kemudian di lini kedua, kreativitas Carlos de Mello sebagai playmaker didukung duet maut Jacksen-Reinald Piters sebagai tukang gedor. Persebaya pun menang 3-1 dari Bandung Raya.

Selain cepat, faktor lain yang membuat klub dengan warna kebesaran hijau itu bisa disegani adalah dukungan via spanduk maupun chant dari Bonekmania. “Teriakan mereka ketika mendukung selalu membakar semangat kami,” tuturnya.

Kemudian untuk Juku Eja, sebutan PSM, Jacksen menerangkan bahwa dia begitu menyukai militansi dari klub terbaik Provinsi Sulawesi Selatan tersebut.

“Mereka bermain keras, namun tidak kasar,” tegas arsitek yang membawa tiga gelar Indonesia Super League bagi Persipura Jayapura pada periode 2008-2013 silam. “Pressing mereka juga bagus. Itu didukung daya juang yang sangat tinggi,” lanjutnya.

Ketika ditanyakan apakah karakteristik dua tim tersebut masih bertahan hingga saat ini, Jacksen tidak bisa menjawab.

Sebab, ketika dirinya menerima pinangan Penang FA di Malaysia Super League 2014-2016, dirinya boleh dibilang lost contact dengan kompetisi tanah air. Sampai dirinya kembali ke Indonesia dengan status sebagai head coach Barito Putera.

Namun, Jacko menerangkan, sepak bola Indonesia saat ini tengah mengalami kemajuan pesat. Menurutnya, para pemain saat ini sudah semakin pandai.

“Permainan bola dari kaki ke kaki mereka sangat lancar,” puji pelatih yang menyabet penghargaan individu Coach of The Year saat ISL 2013 tersebut.

(JPG)



loading...

Feeds

IYL-Cakka

IYL: Mari Ciptakan Politik Santun

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Rapat Koordinasi (Rakor) jaringan pemuda dan mahasiswa untuk Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka), sukses digelar di Hotel …
Indra Sjafri

PSSI: Terima Kasih Indra Sjafri

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Indra Sjafri sudah resmi tidak menangani lagi Timnas Indonesia U-19. Kepastian itu diungkapkan PSSI pada jumpa pers …
Setya Novanto

Ini Kata Setnov Soal Tahanan KPK

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan e-KTP Setya Novanto sudah dua hari menginap di rumah tahanan lembaga antirasuah …
Andi Sudirman Sulaiman

Sudirman Sulaiman Sasar 70 Desa di Wajo

POJOKSULSEL.com, WAJO – Menyusuri desa-desa, menyapa dan mendengarkan harapan serta keluhan masyarakat menjadi bagian yang menarik dari aktifitas bakal calon …