Jelang Demo Ahok 212, Ini Imbauan Menyejukkan FPK Lutra

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com, LUWU UTARA – Jelang demo Ahok 212 yang digelar di Jakarta, Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Luwu Utara (Lutra) H Pardenga mengimbau warga untuk menhormati perbedaan dan menjaga toleransi.

Pardenga mengatakan, warga Lutra yang terdiri dari berbagai suku, etnis, agama, ras dan budaya untuk selalu hidup dalam kedamaian ditengah perbedaan, menjalin silaturahmi dan mempererat hubungan persaudaraan antara suku,etnis, agama,ras dan budaya dalam Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

“Damai itu indah, Mari kita menghimbau kepada masyarakat dimulai dari keluarga, tetangga, satu suku, etnis, budaya dan agama agar tetap menjaga nilai-nilai luhur budaya dan agama kita masing-masing,” kata H.Paradenga saat memimpin rapat kerja monitoring dan evaluasi di hadapan pengurus FPK yang berlangsung diruang pertemuan Badan Kesbangpol Luwu Utara, beberapa waktu lalu.

Masih menurut Pardenga bahwa tugas FPK kedepan sangat besar sebagaimana yang diatur dalam Permendagri 34 Tahun 2006 untuk menjaring aspirasi masyarakat.

Di bidang pembauran kebangsaan, menyelenggarakan forum dialog dengan pimpinan organisasi pembauran kebangsaan, pemuka adat, suku, dan masyarakat.

Selain itu, menyelenggarakan sosialisasi kebijakan yang berkaitan dengan pembauran kebangsaan dan merumuskan rekomendasi kepada bupati sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembauran kebangsaan.

”Kita luruskan isu-isu politik yang sekarang ini tengah merebak di masyarakat yang dapat memecahbelahkan persatuan dan kesatuan bangsa ini, keutuhan NKRI tetap dijaga. Upaya kita dengan turun langsung di masyarakat. Jika isu-isu dibiarkan nantinya akan menjadi masalah yang dapat mengganggu stabilitas daerah dan negara dengan pendekatan persuasif,” terangnya.

FPK yang merupakan forum yang mencerminkan keterwakilan suku, etnis, agama, ras dan budaya yang ada di Kabupaten Luwu Utara. I Wayan Suta, pengurus FPK Lutra, mewakili etnis Bali, mengatakan banyak pembiaran beberapa kasus yang terjadi di masyarakat, setelah terjadi baru ditangani.

Hal senada juga diungkapkan yang mewakili suku Rongkong, Palulungan mengatakan, pihaknya bersama pendeta telah melakukan pencerahan kepada masyarakat atas isu-isu yang berkembang selama ini di masjid dan gereja untuk mewaspadai dini dan tidak terpancing dengan hal-hal yang berkembang di media sosial.

Sementara etnis Toraja diwakili oleh Rabang meminta supaya nilai-nilai budaya luhur, sipakatau, sipakainge dan sipakalebbi agar senantiasa dipupuk dan dikembangkan untuk mencegah terjadinya konflik.

(bayu/pojoksulsel)



loading...

Feeds