Tawuran Siswa, Dewan Panggil Kepala Sekolah SMK 3 Makassar dan SMK 1 Sulsel

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Komisi D DPRD Makassar berencana akan melakukan pemanggilan terhadap Kepala SMKN 3 dan SMKN 1 Makassar. Hal ini didasarkan atas aksi tawuran yang dilakukan oleh sejumlah siswa dari sekolah tersebut, Senin (28/11) kemarin.

Sekretaris Komisi D, Hamzah Hamid mengungkapkan, sangat menyayangkan aksi tawuran yang terjadi antar siswa tersebut. Hal itu menurutnya merusak nama baik pendidikan kota Makassar. Secara tegas, Hamza akan memanggil kedua kepala sekolah terkait.

“Pasti akan kita panggil kedua kepala sekolah yang siswanya tawuran tersebut, kalau sudah ada perkembangan informasinya,” ungkap Hamzah, Selasa (29/11/2016).

Menurutnya, pemanggilan pimpinan kedua sekolah merupakan hal wajar, lantaran dianggap lalai dalam mendidik para siswanya.
Apalagi, tawuran yang mengakibatkan dua orang siswa dibawa ke RS itu, terjadi di waktu jam belajar berlangsung.

“Itu artinya sistem yang ada di sekolah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jelas ini gurunya yang tidak memperhatikan para siswanya. Pasti ada hal yang menyebabkan tawuran itu. Dan sudah tentu ada peran guru di situ,” jelasnya.

Hamzah mengatakan, setelah melakukan koordinasi dengan anggota Komisi D lainnya. Pemanggilan kedua kepsek yang terlibat tawuran akan dilakukan.
Hamzah meminta, agar pihak sekolah untuk memberi sanksi tegas kepada para pelaku tawuran.

“Kita akan koordinasi dulu di Komisi, Kalau sudah tidak bisa dibina, pindahkan saja ke sekolah lain. Dari pada menjadi contoh yang buruk ke siswa lain,” terangnya.

Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk efek jera kepada para pelaku tawuran. Sebab, jika tidak ada sanksi yang diberikan, maka potensi terjadinya tawuran, masih sangat memungkinkan.

“Biar para siswa pelaku tawuran itu jerah dan berfikir keduakalinya kalau mau tawuran lagi. Jangan sampai ini menjadi percontohan untuk siswa-siswa yang lain,” jelas Hamza.

“Meski sebetulnya masih di bawa umur. Tapi kan ada aturannya tersendiri soal itu, bisa dikembalikan ke pihak orang tua untuk dibina. Atau dalam bentuk lainnya,” tambahnya.

Hamzah kembali menegaskan, pihak guru di kedua sekolah tersebut mestinya lebih dapat bertindak preventif. Pasalnya, jika saja sistem di sekolah tersebut berjalan secara normal, tentu tawuran tidak akan terjadi.

“Ini juga guru-guru disekolah harus preventif hadapi siswa-siswanya. Kalau bagus ji na tangani siswanya pasti tidak terjadi ji,” tegas Hamzah.

(chaidir pratama/pojoksulsel)



loading...

Feeds