Soal Parkir Berbayar di UIN Alauddin, Alumni Angkat Suara

Bajuri sapaan akrab Edi Arsyad, Alumni Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar.

Bajuri sapaan akrab Edi Arsyad, Alumni Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar.

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Edi Arsyad, alumni jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar, menanggapi rencana sistem perparkiran berbayar di Kampus II UIN Alauddin pada awal Januari mendatang.

Menurutnya, kampus sebagai lembaga pendidikan, idelanya melihat kondisi peremonomian mahasiswa.

“Sebagai alumni, saya sangat mendukung segala hal yang bertujuan memperbaiki sesuatu. Tapi kalau ingin dilihat secara mendasar, apakah tidak ada cara lain yang tidak membebankan mahasiswa melalui parkir barbayar?” kata Bajuri sapaan akrab Edi Arsyad, Selasa (29/11/2016).

Mantan Ketua Lembaga Pers Lima Washilah UIN Alauddin ini mengatakan, kalau hanya karena alsan keamanan, UIN Alauddin pun telah memiliki satuan pengamanan (Satpam). Pihak birokrasi kampus hanyavperlu melengkapi pendukung keamanan, seperti pemasangan CCTV di beberapa titik di lingkungan Kampus UIN Alauddin Makassar. Pemasangan CCTV dinilai akan lebih praktis. Satpam hanya perlu memperketat kontrol terhadap situasi dan kondisi yang terekam CCTV.

Edi Arsyad pun menyebut kalau parkir berbayar diterapkan di UIN, maka lingkungan Kampus tidak ubahnya seperti Mal, di mana mahasiswa diposisikan sebagai pengunjung. Ia juga mempertanyakan sejauh mana penyosialisasian parkir berbayar, kepada mahasiswa maupun lembaga kemahasiswaan. Begitu juga upaya sosialisasi kepada pihak birokrasi secara keseluruhan.

“Jika pada tahap sosialisasi, wacana parkir berbayar sudah ditolak. Maka saya rasa tidak perlu lagi dilanjutkan,” ujarnya.

Sementara itu, rencana parkir berbayar di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, telah mendapat penolakan keras dari mahasiswa. Padahal parkir berbayar itu sudah pada tahap sosialisasi. Sebagai bentuk protes, ratusan mahasiswa UIN Alauddin Makassar melakukan unjuk rasa dan teaterikal di Kampus II di Samata. Rencanya, parkir berbayar di Kampus peradaban itu mulai berjalan pada awal Januari 2017 mendatang.

Koordinator aksi, Kefa menilai, meskipun dalam petunjuk pelaksanaanya, biaya parkir yang ditetapkan oleh pihak Kampus UIN Alauddin Makassar hanya Rp1.000 untuk sepeda motor, dan Rp2 ribu untuk mobil. Namun parkir berbayar itu pasti membebani mahasiswa.

Menurut Kefa, parkir berbayar di Kampus UIN Alauddin Makassar sudah masuk pada sektor bisnis dan komersialisasi kampus. Apalagi, birokrasi akan melibatkan pihak ketiga sebagai pengelola perparkiran berbayar.

Sebelumnya, Kepala Pusat Pengembangan Bisnis (P2B), Syamsul Qamar mengatakan penerapan perparkiran berbayar pada awal Januari 2017 semata-mata untuk menata perparkiran di UIN Alauddin Makassar. Selama ini, perparkiran di Kampus II UIN Alauddin Makassar dinilai semrawut, dan lahan parkir tidak berfungsi dengan baik. Sehingga, keamanan kendaraan mahasiswa khususnya sepeda motor tidak aman.

Penyosialisasian perparkiran berbayar di Kampus II UIN Alauddin Makassar, telah mencapai 80 persen. Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Musafir Pababari bahkan telah menandatangi nota kesepahaman atau MoU. Jadi atau tidaknya pengelolaan parkir berbayar di Kampus UIN akan diputuskan salam rapat pimpinan (Rapim).

Pengelolaan sistem perparkiran berbayar di Kampus UIN Alauddin Makassar diambila alib oleh PT Auto Parking melalui Kerja sama Operasional (KSO) dengan P2B UIN Alauddin. Mekanisme pembagian hasil pun sudah dirumuskan, yakni 80 persen penghasilan akan masuk ke kas Keuangan UIN Alauddin Makassar. Sementara 20 persen masuk ke perusahaan Auto Parking

(muh fadly/pojoksulsel)



loading...

Feeds