Karena Latimojong, Agus Arifin Nu’mang Sebut Enrekang Jantung Sulsel

Wagub Sulsel Agus Arifin Nu'mang saat membuka Rakenas Himpunan Keluarga Massenrempulu (HIKMA) di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Enrekang, Sabtu (26/11/2016).

Wagub Sulsel Agus Arifin Nu'mang saat membuka Rakenas Himpunan Keluarga Massenrempulu (HIKMA) di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Enrekang, Sabtu (26/11/2016).

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Agus Arifin Nu’mang menyebut Pegunungan Latimojong menjadi salah satu ikon Kabupaten Enrekang dan Sulsel. Disamping keindahan Pengunungan Latimojong, manfaat lain dari pegunungan Latimojong adalah aliran sungai dari kaki Pegunungan Latimojong pun telah menjadi sumber utama kelangsung pertanian di beberapa kabupaten di Sulsel.

Atas dasar itu, Wagub Agus Arifin Nu’mang menjuluki Enrekang sebagai jantung Sulsel. Agus Arifin Nu’mang mengatakan air sungai yang mengalir dari kaki pegunungan Latimojong, telah menyuplai air ke wilayah pertanian di Sulsel, seperti Sidrap, Pinrang, Wajo dan beberapa kabupaten lainnya.

“Enrekang ini adalah jantungnya Sulsel. Karena Sidrap dan Pinrang itu airnya yang mengairi lahan pertaniannya dari Enrekang,” kata Agus Arifin Nu’mang, saat membuka Rakenas Himpunan Keluarga Massenrempulu (HIKMA) di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Enrekang, Sabtu (26/11/2016).

Pada kesempatan yang sama, Agus Arifin Nu’mang mengatakan, Kabupaten Enrekang juga menjadi salag satu daerah, yang berkontribusi besar bagi perekonomia Sulsel. Salah satu komoditi Enrekang yang ikut berkontribusi dalam penekanan inflasi di Sulsel adalah produksi bawang merah.

Kondisi geografis Enrekang yang berada di wilayah pegunungan, menjadi salah satu keunggulan Enrekang. Beberapa produk pertanian Enrekang juga, memiliki kualitas berkelas dunia. Salah satunya yaitu Kopi Kalosi yang ditanam di kaki Gunung Latimojong, dan juga beras organik.

“Kopi Kalosi itu memang menjadi nomor 1 di dunia. Saingannya kalau tidak salah hanya Brazil. Harga kopi disini Rp50 ribu, padahal di Jepang harganya sampai Rp530 ribu. Ini yang harus betul-betul kita berdayakan. Agroklimatologinya harus dioptimalkan,” kata Agus Arifin Nu’mang.

Untuk memaksimalkan potensi yang ada, lanjutnya, infrastruktur yang ada dan menuju desa-desa harus diperbaiki dan ditingkatkan. Bahkan jika perlu, kata dia, bisa dibuatkan Perda yang mengatur masalah komoditi-komoditi yang memiliki peluang besar.

“Tugas kita adalah bagaimana memperbaiki infrastruktur yang ada di desa, dan Enrekang sudah melakukan itu. Di Jawa itu perekonomiannya maju karena akses trasnportasinya ke desa-desa itu baik,” terang Agus Arifin Nu’mang.

Sementara Bupati Enrekang Muslimin Bando mengatakan, Enrekang saat ini telah menjadi penopang dan punya posisi penting di Sulsel sebagai salah satu penentu swasembada pangan.

“Itu karena air yang mengaliri Pinrang, Sidrap, Luwu, Wajo itu semua berasal dari Gunung Latimojong. Kalau warga Enrekang tidak menjaga hutannya, tentu air yang mengalir dari Latimojong juga pasti akan berkurang,” ujarnya.

Kabupaten Enrekang juga masuk dalam 5 besar penyanggah bawang merah di Indonesia. Pada kesempatan yang sama, Muslimin Bando menyebut Enrekang begitu dekat dengan Pemprov Sulsel. Apalagi, Wagub Agus Arifin Nu’mang merupakan bagian dari masyarakat Massanrenpulu.

(muh fadly/pojoksulsel)



loading...

Feeds