Investor Cina Masuk, Bendera RRC pun Berkibar. Kata Gubernur Hanya Kekeliruan?

Bendera RRC berkibar di Pulau Obi, Privinsi Maluku Utara (Malut) di sela-sela peresmian smelther PT Wanatiara Persada.

Bendera RRC berkibar di Pulau Obi, Privinsi Maluku Utara (Malut) di sela-sela peresmian smelther PT Wanatiara Persada.

POJOKSULSEL.com, HALMAHERA – Bendera Tiongkok berkibar di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) milik PT Wanatiara Persada. Pabrik ini merupakan milik investor Cina yang dibangun di Pulau Obi Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Gubernur Maluku Utara KH Abdul Gani Kasuba mengatakan, insiden pengibaran bendera Cina yang sejajar dan lebih besar dari bendera Merah Putih saat acara peletakan batu pertama itu murni kekeliruan semata.

Melalui juru bicaranya Halid Alkatiri, Gubernur Kasuba mengakui bahwa ia turut hadir dan meresmikan smelter investor Cina tersebut.

Namun politikus PKS ini pihak perusahaan (PT Wanatiara Persada) tidak memiliki motif apa-apa di balik pengibaran bendera tersebut.

“Itu hanya insiden yang tidak disengaja. Hanya kekeliruan,” ungkap gubernur melalui Kepala Biro Humas Setdaprov Malut, Halid Alkatiri saat dikonfirmasi, Sabtu sore (26/11/2016).

Menurut gubernur, ia lebih memfokuskan perhatiannya pada peresmian smelter perusahaan tambang nikel tersebut. “Dan saya berharap ada peningkatan investasi dengan adanya smelter tersebut,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Jumat (25/11) terjadi insiden pengibaran bendera Tiongkok yang dikibarkan sejajar dengan bendera merah putih pada acara peresmian smelter milik PT Wanatiara Persada. Tidak itu saja, bendera Tiongkok itu lebih besar ukurannya dari bendera merah putih.

Mengetahui itu, Pasintel Lanal Ternate Mayor Laut (P) Harwoko Aji langsung memerintahkan anak buahnya Sertu (Mar) Agung Priyantoro untuk mengambil tindakan menurunkan bendera yang dimaksud.

Namun begitu Sertu (Mar) Agung Priyantoro merapat ke lokasi acara, ternyata bendera Cina tersebut tengah diturunkan oleh sekuriti PT Wanatiara Persada.

Peristiwa ini dianggap melanggar PP nomor 41 tahun 1958 tentang penggunaan bendera kebangsaan asing dan UU nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

(sad/jpg/pojoksatu/pojoksulsel)



loading...

Feeds