HAM Sulsel Desak Kejati Tuntaskan Kasus Pengadaan Air Bersih di Jeneponto

Himpunan Aktivis Mahasiswa (HAM) Sulsel

Himpunan Aktivis Mahasiswa (HAM) Sulsel

PULUHAN mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam Himpunan Aktivis Mahasiswa (HAM) Sulsel menggelar aksi unjuk rasa di depan Kejaksaan Tinggi Sulselbar, Rabu (25/02/2016) lalu.

Aksi kali ini dalam rangka untuk mempertanyakan kepada Kejati Sulselbar terkait sampai dimana kejelasan kasus pengadaan air bersih (sumur bor) di Desa Borongtala’ dan Desa Turatea, Kecamatan Tamalatea kabupaten Jeneponto yang di kerjakan oleh PKPAM Sulsel 2013 yang diduga merugikan negara hingga ratusan juta rupiah.

Kehadiran kembali massa aksi HAM Sulsel di depan Kejati Sulselbar sebab, beberapa minggu yang lalu pada aksi sebelumnya pihak Kejati menyampaikan bahwa kasus ini segera di limpahkan ke kejaksaan negeri Jeneponto namun sampai hari ini belum juga dilimpahkan.

Menurut Akbar Muhammad selaku jenderal lapangan aksi, dalam orasinya, mengatakan, “pihak kejaksaan sangat lamban dalam menangani kasus karena sudah satu bulan setelah aksi sebelumnya kasus ini belum juga di limpahkan ke kejaksaan Negeri Jeneponto oleh karena itu kami kembali melakukan aksi sebagai bentuk protes kepada kejaksaan tinggi Sulsel, dan meminta kepada kejaksaan tinggi sulsel agar menangani kasus ini sesuai prosedur hukum yang berlaku dan melaksanakan tugas sesuai amanah rakyat,” tuturnya.

Senada dengan pernyataan jenderal lapangan aksi, Ismail Radjab selaku ketua umum HAM Sulsel menambahkan bahwa pihak Kejati Sulselbar terkesan mengabaikan kasus ini.

“Buktinya, pada aksi sebelumnya Kejati Sulselbar telah berjanji melimpahkan kasus ini ke kejari kabupaten Jeneponto, namun janji tersebut tidak lebih hanya sekedar buaian belaka. Jangan sampai pihak kejati bermain mata dengan oknum – oknum tertentu untuk ‘menyelesaikan’ kasus ini. Aksi Ini adalah murni aspirasi masyarakat dari desa Turatea dan desa Borongtala, Kabupaten Jeneponto yang menginginkan pertanggung jawaban dari pihak PKPAM Sulsel atas pembangunan sumur bor pada tahun 2013 yang sejak saat tahun itu sama sekali tidak bisa mereka fungsikan dan belum dikerjakan secara maksimal,” tutur mail, dengan nada geram.

Dalam aksi ini sempat terjadi saling dorong antara aparat kepolisian dengan massa aksi yang coba menghentikan aksi tersebut dan berusaha merebut megaphone milik peserta aksi, namun peserta aksi tetap ngotot ingin menyampaikan aspirasinya dan meminta agar pihak kejaksaan tinggi menemui perwakilan peserta aksi untuk ber audience.

Selang beberapa jam menunggu, akhirnya massa aksi bisa ber audience dengan pihak kejati yang diwakili oleh Staf Kasi Penkum Kejaksaan tinggi, Muh. Asy’ari Said dan pihak kejati Sulselbar berjanji dalam waktu dekat akan melimpahkan kasus ini ke kejari kabupaten Jeneponto.

Sesaat kemudian massa aksi meninggalkan kejati sulselbar menuju persimpangan 3 jalan andi pettarani dan jalan alauddin untuk melanjutkan aksinya.

Pengirim : HAM Sulsel



loading...

Feeds