POJOK MOTIVASI: Hasrat, Nekat, dan Tekad

Bastian Jabir Pattara

Bastian Jabir Pattara

SALAH satu cara untuk meraih kesuksesan adalah dengan meningkat daya jual diri dengan cara menempuh pendidikan yang lebih baik. Karena semakin baik tingkat pendidikan kita, maka akan semakin tinggi nilai jual kita. Makin tinggi nilai jual diri kita, maka makin tinggi nilai jual daerah atau bangsa kita.

Namun, data dari bps.go.id pada tahun 2013, ternyata masyarakat Indonesia hanya sekitar 18,53 persen yang bisa melanjutkan pendidikan hingga sarjana (S1), dan hanya 2.394 orang per 1 juta penduduk yang bisa menjadi Magister (S2), serta hanya 143 orang per 1 juta penduduk yang bisa menjadi Doktor (S3).

Salah satu faktor utama masyarakat Indonesia tidak dapat melanjutkan pendidikannya adalah faktor ekonomi. Makanya Undang-Undang mengenai Pendidikan Nasional (No. 20/2003) menyatakan bahwa Pemerintah diberi mandat untuk mengalokasikan 20% dari pengeluarannya untuk anggaran pendidikan. Namun, ternyata itupun belum menjawab tantangan kurangnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia.

Lalu, kalau negara kita tidak sanggup untuk membuat kita menjadi pintar lewat pendidikan formal yang semakin mahal biayanya, apakah kita harus menerima keadaan kita apa adanya? Padahal kita sudah menyadari bahwa tidak ada yang mampu mengubah kondisi yang ada pada diri kita termasuk negara kita.

BACA JUGA:

Ini Jawaban Penentu Kezia Warouw dari Sulawesi Utara Jadi Putri Indonesia 2016

Inilah 9 Khasiat Luar Biasa Jahe

Tanpa kita memiliki hasrat dan tekad yang kuat untuk mengubahnya sendiri, bahkan Tuhan sendiripun tidak mau mengubahnya kalau kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya.

“Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Qs.13:11).

Hasrat, tekad, dan “nekat” yang kuat, keinginan yang besar yang akan memberikan kita motivasi untuk dapat bertindak cepat untuk mengubah keadaan yang belum sesuai dengan harapan yang ada pada diri kita.

Walaupun tidur hanya beberapa jam dalam satu malam, namun dengan hasrat dan tekad yang kuat, akan membuat kita tetap segar dan bugar. Seperti Andra yang harus bangun setiap jam 3 pagi, agar bisa datang ke tempat pemotongan hewan, sebelum sapi-sapi disana dipotong.

Lalu mengumpulkan kulit-kulit sapi yang sudah dipotong secara utang kepada pemilik sapi, karena Andra sudah dipercaya kejujurannya, nanti setelah dijual ke pedagang pengumpul kulit sapi, lalu hasilnya diberikan kepada pemilik sapi. Selisihnya Andra simpan untuk biayanya kuliahnya. Itulah dilakukan Andra hingga dia memperoleh gelar sarjana ekonomi.

Setelah Sarjana dia membuka usaha lain, dengan belasan karyawan dan omzet miliaran rupiah per bulan. Kini Andra sudah memiliki ratusan hektar kelapa sawit, yang dia beli dari sisa hasil usahanya per tiga bulan.



loading...

Feeds