POJOK OPINI: Pasha Efek dan Budaya Politik Populer

Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu bersama Walikota Palu Hidayat.

Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu bersama Walikota Palu Hidayat.

BARU satu hari  Sigit Purnomo Said atau Pasha menjadi Wakil Walikota Palu, kampung halaman saya tersebut sudah menjadi trending topik berita nasional. Dari media cetak, televisi, online, sampai jejaring sosial heboh akan tingkah laku mantan vokalis Band Ungu tersebut.

Biasanya Kota Palu atau Sulawesi Tengah, senantiasa identik dengan ‘berita konflik’, namun kini telah terjadi pergeseran nilai berita, yakni Pasha!

Saya awalnya, ‘berusaha menghindari’ membicarakan fenomena ‘Pasha efek ’, ketika banyak dari senior dan junior jurnalis meminta konfirmasi soal ‘kesan angkuh Pasha pada para wartawan, sampai kemarahannya pada apel pagi di Kantor Walikota.

Karena bisa jadi banyak yang akan menariknya  atau menghubungkannya pada relasi yang sangat politis. Namun, setelah saya pikir kembali, manakah yang hari ini lepas dari dunia tafsir? Bukankah saya sedang hidup pada zaman kebudayaan pop? Dimana setiap orang bisa menjadi penafsir, dimana setiap orang bisa pula dengan mudah menghubung-hubungkan sesuatu yang tak berhubungan?

Pasha Efek dan Budaya Politik Populer?

Pasha, adalah anak kandung dari kebudayaan populer atau biasa disebut sebagai popculture. Budaya pop sendiri, adalah sebuah kebudayaan yang lahir dari budaya massa yang direproduksi oleh media massa.

Raymond Williams, seorang pakar cultural studies, telah memberikan definisi yang sederhana tentang apa yang disebut sebagai budaya popular, ‘yaitu praktek kerja budaya yang  berusaha untuk menyenangkan dan disukai oleh orang banyak’.



loading...

Feeds