OPINI: Mencari Pemimpin yang “Gila” Bola

Lukman Hamarong

Lukman Hamarong

FOOTBALL is more than just a game. Ya, sepak bola memang lebih dari sekadar olah raga. Sepak bola adalah jembatan penghubung antarbenua, antarnegara, dan juga antaragama. Sepak bola dapat membingkai peradaban manusia di kolong langit, dan sepak bola adalah bahasa universal yang mampu menyatukan semua perbedaan. Lantas, sejauh mana para pemimpin kita memaknai urgensi dari olah raga bal-balan ini?

Coba kita tengok Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang menginisiasi pembangunan Stadion serbaguna yang megah bertaraf internasional, Stadion Gelora Bung Karno. Stadion yang dibangun pada awal Februari 1960-an itu kini menjadi stadion ikonik bagi persepakbolaan nasional. Sebagai penghargaan kepada Bung Karno, maka nama Stadion Senayan Jakarta dirubah menjadi Stadion Gelora Bung Karno. Ini bukti kecintaan Soekarno pada olah raga sepak bola. Dia memberikan ruang dan waktu pada sepak bola untuk bisa tumbuh berkembang di republik ini.

Di luar Soekarno, masih banyak pemimpin yang mampu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari si kulit bulat. Ambil contoh Presiden ke-3, Abdurrahman Wahid. Beliau adalah ulama besar di negeri ini yang mampu tersenyum dan tertawa ketika topik yang didiskusikan tidak jauh-jauh dari sepak bola. Salah satu bukti bahwa beliau pemimpin yang “gila” bola adalah tampilnya beliau sebagai seorang analis pertandingan sepak bola di media olah raga terbesar tanah air, Tabloid BOLA, di tahun 2000-an.

Meski tak “segila” Gus Dur, sebutan lain Abdurrahman Wahid, dalam melihat sepak bola, tetapi Presiden ke-5 dan ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono, juga tak bisa dinafikan betapa perhatian beliau pada sepak bola juga besar. Hal itu bisa dibuktikan pada saat penyelenggaraan turnamen Piala Asia 2007 dan Piala AFF 2010, di mana SBY selalu hadir ketika timnas merah putih bermain. Lengkap dengan syal merah putih. SBY juga larut dalam setiap kejadian di lapangan. Mengangkat syal atau bendera mini merah putih dan bertepuk tangan adalah selebrasi penghubung dari sang presiden untuk menyemangati anak-anak Garuda bermain.

Jokowi pun setali tiga uang. Presiden ke-7 ini juga punya andil pada suksesnya penyelenggaraan Turnamen Piala Presiden dan Piala Jenderal Soedirman beberapa waktu lalu. Meski kita juga tak bisa menutup mata bahwa di era Jokowi inilah PSSI dibekukan dan akhirnya di-sanksi FIFA. Masih segar di ingatan sewaktu final Piala Presiden 2015 lalu. Jokowi dengan penuh semangat memberikan petuah kepada seluruh pemain untuk tidak patah semangat di tengah kondisi sepak bola yang seakan hidup segan mati pun tak mau. Lebih baik kita mundur selangkah untuk maju lima langkah. Mungkin itu pesan yang tersirat dari petuah Jokowi kala itu.

Kalau mau mencari yang lebih “gila” lagi, maka nama Ridwan Kamil patut dikedepankan. Wali Kota Bandung ini dikenal sebagai suporter fanatik sepak bola, khususnya klub Persib Bandung. Dia malah tak segan berbaur dengan para Bobotoh di dalam stadion, sambil bernyanyi-nyanyi memegang mikrofon. “Saya orang Bandung terakhir yang pulang untuk memastikan semua bobotoh pulang dengan selamat usai final Piala Presiden ini”. Sebuah pernyataan ekstrim yang bisa mengonfirmasi betapa besar perhatian sang wali kota terhadap sepak bola.

Untuk level Gubernur, maka Rano Karno adalah nama berikutnya yang wajib kita munculkan. Gubernur Banten ini dikenal juga gila bola. Saking “gilanya” pada olah raga adu kaki ini, dia acapkali diundang media, baik cetak maupun elektronik, untuk mengupas dan memprediksi pertadingan sepak bola, khususnya ketika ada pesta bola sekelas Piala Eropa dan Piala Dunia. Ulasan mantan aktor era 80-an ini juga kerap muncul di Tabloid BOLA.

Sekali lagi, ini bukti betapa sepak bola adalah kekuatan terselubung para pemimpin dalam mencari simpati publik. Membangun citra lewat sepak bola saya kira adalah tindakan cerdas. Suka tidak suka, para suporter akan lebih senang ketika pemimpinnya bisa hadir bersama mereka di tengah atmosfer pertandingan sepak bola. Atensi pemimpin terhadap sepak bola bukan lagi semata-mata untuk mencari simpati publik tetapi sudah menjadi tradisi yang harus dipelihara agar sepak bola kita terus berkembang.



loading...

Feeds