KNPI Wajo Gelar Dialog Budaya

Tokoh Adat Fung Datu Sulaiman( pake Bajubiru) ke kekanan Datu Baso, Andi Pandu Jaya, Kepala Kantor Kesbangpol. | POJOKSULSEL - ANDI PAJUNG

Tokoh Adat Fung Datu Sulaiman( pake Bajubiru) ke kekanan Datu Baso, Andi Pandu Jaya, Kepala Kantor Kesbangpol. | POJOKSULSEL - ANDI PAJUNG

POJOKSULSEL.com, WAJO – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia DPD KNPI Kabupaten Wajo menggelar dialog Budaya di Gedung KNPI Jumat (12/2/2016).

Acara yang mengambil tema “Legitimasi adat di era Mea” ini dihadiri Kepala Kantor Kesbangpol, Baharuddin M Yusuf, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Andi Darmawansa, sejumlah tokoh adat, Tokoh Agama, Budayawan, Pemerhati Budaya dan Prkatisi Hukum serta sejumlah LSM dan Wartawan

Andi Rahmat Munawar dalam pemaparannya menyampaikan keperihatinanya terhadap perkembangan budaya lokal yang saat ini sudah terkesan terabaikan dan mulai digantikan dengan budaya asing,

Selain itu Ia juga menilai generasi mudah saat ini semakin jauh dari nilai budaya itu sendiri dan terkesan mulai menggantikan budaya daerahnya dengan budaya asing seperti budaya Jepang dan India.

Dalam pemaparannya ia juga mengaku prihatin dengan munculnya fenomena yang sudah sebulan terakhir mencuat di media sosial dengan kemunculan pengakuan seseorang yang mengaku sebagai Raja dan Arung Matowa Wajo dan kemunculan raja-raja palsu berdasarkan petunjuk dukun yang bisa memicu konfrantal di masayarakat.

Sementara itu Samsul Bahri, dalam pemaparannya mengatakan melestarikan budaya juga bagian dari pada iman, sehingga menjaga budaya itu dianggapnya sangat perlu.

Ia juga mengungkapkan betapa pentingnya menjaga budaya seperti halnya menjaga jati diri, sebab menurutnya jika jati diri hilang akan sulit untuk mengembalikan.

“Emas bisa dicari dan dibeli jika telah hilang, namun jika jati diri yang hilang itu akan sulit untuk dikembalikan, untuk itu menjaga budaya itu perlu sebab itu menjadi jati diri sebuah daerah,”katanya

Tentang munculnya Raja baru yang mengaku sebagi Arung Matowa menurut Syamsul Bahri dijaman sekarang ini adalah sebuah kesalahan namun dilain sisi dengan kemunculannya mampu menggugah masayarkat untuk kembali membicarakan hal tersebut.

“Tentunya diharapkan para pemerhati budaya dapat menangkal hal semacam itu agar Jati diri sebagai daerah yang memiliki budaya itu tetap bisa dipertahankan dan Agama tidak menentang itu,”kata Saymsul Bahri.

Dalam dilaog yang berdurasi sekitar 4 jam tersebut juga mengemuka tentang pentingnya pembentukan Dewan Adat untuk mengantisipasi kemuculan Raja-raja palsu serta menghidupkan kembali budaya yang mulai terkikis dengan budaya luar.

(andi pajung/pojoksulsel)



loading...

Feeds

Bakal Caleg PSI Diuji Tim Independen

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuktikan diri sebagai partai bermananajemen moderen. Untuk rekruitmen bakal calon anggota legislatif saja, …