20 Kasus DBD di Bantaeng, Ini Titik Endemisnya

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com, BANTAENG  – Meski wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menyebar di sejumlah daerah, bahkan korban meninggal dunia sudah berjatuhan, namun di Kabupaten Bantaeng hingga kini masih terus diantispasi dengan pengawasan ketat baik ke Puskesmas Pembantu.

Saat ini  dari datas Dinas Kesehatan Bantaeng, terdapat 20 kasus DBD selama Januari 2016 dan semuanya diklalim bisa ditangani dengan baik.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan pengawasan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bantaeng dr Bambang mengaku, sebagai langkah antisipasi terhadap penyebaran penyakit tersebut, Dinkes telah membentuk Tim Gerak Cepat (TGR) yang bertugas untuk segera melakukan aksi jika ada warga yang telah terjangkit DBD dengan melakukan fokus fogging dan fogging endemis.

“Jadi semua Puskesmas dan Pustu selalu siaga dan bergerak cepat ketika terjadi kasus DBD dengan cara melakukan fogging atau penyemprotan di lokasi tempat tinggal pasien yang terjangkit. Termasuk melakukan fogging di daerah endemis,” jelas dr Bambang, Selasa (9/2/2016).

Dari 20 kasus DBD di Bantaeng, rata-rata terjadi di pemukiman yang berada di perkotaan, sedangkan di pedesaan belum diperoleh laporan.

Beberapa titik endemis yang ada di kota Bantaeng seperti,  Tappanjeng , Bonto Rita, Kayangan, serta Garegea. “Jadi lokasi endemis paling banyak berada di pemukiman yang ada di perkotaan,” ungkapnya.

Sekretaris Dinkes Bantaeng dr Andi Ihsan menyebutkan, meskipun di Bantaeng hingga kini kasus DBD bisa ditangani, tapi bukan berarti petugas berdiam diri. Sebaliknya, seluruh petugas kesehatan hingga di Pustu harus tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini.

“Kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan hingga ke layanan kesehatan hingga tingkat desa. Kami ingatkan kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati terhadap gigitan nyamuk aedes aegypti pada siang hari,” imbaunya.

Ihsan menambahkan, dari 20 kasus DBD yang terjadi di Bantaeng, dua kasus diantaranya merupakan pasien asal kabupaten lain yang dirawat di unit layanan kesehatan di daerah ini.

(andi awal/pojok sulsel)



loading...

Feeds