Siswa Pinrang Bawa Kondom ke Sekolah, DPRD Semprot Dikpora

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com, PINRANG – Alat kontrasepsi atau kondom, benda tajam, serta perlengkapan judi ditemukan di dalam tas sejumlah pelajar pada saat razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), awal pekan ini.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pinrang pun menilai, instansi terkait tidak maksimal dalam membentuk karakter serta pola pendidikan yang baik untuk generasi penerus bangsa di Kota lumbung beras tersebut.

Anggota Komisi I DPRD Pinrang Muhammad Amir menegaskan, Dinas Pendidikan (Disdik) PInrang harus memperketat pengawasan dan pemantauan terhadap barang bawaan siswa.

“Hal ini sudah berulang kali disampaikan kepada Dinas Pendidikan, agar pengawasan dan pemantauan kepada siswa diperketat. Jadi rusak generasi bangsa kalau begini,” tegas Amir, Kamis (4/2/2016).

Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan, setiap diadakannya pertemuan dengan Dinas Pendidikan, DPRD senantiasa mengawali imbauan agar instansi tersebut, memperketat pengawasan kepada siswa.

“Tetapi sepertinya mereka kurang respek. Dinas itu harus memaksimalkan fungsi pengawas sekolah,” katanya.

Jangan sampai, kata dia, kejadian kejadian yang tidak diinginkan terjadi secara berulang.

“Kinerja dan peningkatan mutu pendidikan harus seiring dengan anggaran yang dikucurkan kepada dinas tersebut,” ungkap Amir.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Pinrang Hj.Syamsiahberjanji bakal mengatasi persolan itu.

Pihaknya pun berjanji akan mengumpulkan para kepala sekolah untuk membahas masalah tersebut.

“Kami akan bahas ulang, dalam waktu dekat kepala sekolah kita kumpulkan di kantor,” akunya.

Syamsiah mengakui, selama ini pertemuan guru dan siswa hanya berlangsung di sekolah dengan waktu yang terbatas. Maka dari itu katanya, diperlukan peran serta pihak komite sekolah dan orang tua untuk bersama turun tangan,

“Agar pengawasan kepada siswa lebih maksimal. Karena memang, waktu siswa lebih banyak di rumah dibanding di sekolah,”ungkap dia.

(haerul amran/pojoksulsel)



loading...

Feeds