HEBOH! Muncul Raja Penerus Manurung dan Arung Matowa Wajo

Pria yang mengaku Raja Wajo

Pria yang mengaku Raja Wajo

POJOKSULSEL.com, WAJO – Sepekan terahir ini, warga Wajo dihebohkan dengan munculnya akun memakai nama Saoraja Mallawa Baru Langkenna Botting Langi.

Dalam obrolannya dengan salah satu pemerhati budaya, pengguna akun ini mengaku berdarah Bocco, salah satu starata tertinggi dalam kehidupan masayarakat Bugis Wajo. Selain itu, ia juga mengaku sebagai raja penerus Manurung dan Arung Matoawa Wajo yang sudah lama terputus.

Di beranda akunnya, secara gamblang ia juga memamerkan foto sebuah rumah panggung di daerah Jalang, Kecamatan Sajoanging dengan Lawasoji yang ia klaim sebagai istana. Dengan ciri khas rumah bangsawan dengan timpa laja bersusun 9 yang biasanya hanya boleh digunakan oleh bangasawan tinggi di Kabupaten Wajo.

Selain itu, ia tampilkan juga fotonya yang berpakaian adat mirip melayu yang didampingi sejumlah waria.

Dalam obrolannya, selain ia mengaku sebagai raja penerus Manurung dan Arung Matoawa Wajo yang sudah lama terputus, ia mengaku bergelar pangeran mahkota di Torja serta memiliki hak penuh terhadap adat istiadat karena mengaku sebagai bangsawan tertinggi. Ia mengklaim memiliki tanah leluhur yang tersebar di Bone, soppeng, Luwu Toraja dan Wajo.

Menanggapai pengakuan munculnya raja di Kabupaten Wajo tersebut, Andi Rahmat Munawar, salah seorang pemerhati budaya menilai pengakuan sebagai raja di Wajo terlalu berlebihan. Apalagi jika mengabaikan aturan aturan adat.

Rahmat menambahkan, jabatan raja atau sultan dalam sebuah lembaga adat yang sah, bukanlah hasil penunjukan/pengangkatan raja dari lembaga adat lain. Bukan pula hasil penunjukan langsung birokrasi pemerintahan. Bukan pula klaim sepihak. Tetapi melalui hasil permufakatan dewan adat atau pewaris adat setempat.

“Lembaga adat harus mengacu pada aturan aturan adat setempat disamping regulasi yang diterapkan negara. Bila ada lembaga adat, secara formal yuridis diakui oleh negara, namun secara faktual mengingkari aturan adat setempat, maka itu lembaga adat abal-abal. Apalagi jika ada yang mengaku raja tanpa permufakatan dewan adat atau pewaris adat setempat,” kata Andi Rahmat.

Rahmat juga menambahkan, Arung Matoa atau Raja di Wajo tidak tidak diwariskan melainkan dipilih.

“Karena konsep kerajaan di Wajo itu tak ada raja tanpa rakyat. Bahkan To Manurung sekalipun, takkan menjadi raja tanpa diminta oleh rakyat,” pungkas Andi Rahmat.

(andi pajung/pojoksulsel)



loading...

Feeds